Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ngebut Implementasi Karbon Biru: Indonesia Taruh Masa Depan Iklim di Pesisir

📅 Jumat, 13 Feb 2026, 21:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ngebut Implementasi Karbon Biru: Indonesia Taruh Masa Depan Iklim di Pesisir Doc: ANTARA/ Yusuf Nugroho.
Ket. Ilustrasi - Kawasan wisata konservasi hutan Mangrove di Desa Pasar Banggi, Rembang, Jawa Tengah.

JAKARTA – Penerapan karbon biru menjadi instrumen strategis dalam agenda transisi iklim, terutama bagi negara maritim seperti Indonesia.

Ekosistem pesisir—mangrove, lamun, dan rawa pasang surut—memiliki kapasitas serapan karbon yang jauh lebih tinggi dibanding hutan daratan, sekaligus berfungsi sebagai benteng alami dari abrasi dan banjir rob.

Namun, efektivitas karbon biru tidak cukup hanya bertumpu pada rehabilitasi ekosistem; hal itu menuntut tata kelola berbasis data, kepastian hak kelola masyarakat pesisir, serta integrasi ke dalam skema pembiayaan iklim dan pasar karbon.

Tanpa kerangka regulasi yang solid dan koordinasi lintas sektor—termasuk peran aktif Kementerian Kelautan dan Perikanan—karbon biru berisiko berhenti sebagai jargon kebijakan, bukan solusi nyata bagi mitigasi emisi dan penguatan ekonomi pesisir.

Indonesia mempercepat penerapan karbon biru sebagai pilar utama dalam transisi iklim nasional, seiring penyampaian Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) Kedua dan menjelang Konferensi Iklim COP31 di Antalya, Turkiye.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Koswara, dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (13/2), menegaskan Indonesia memiliki peluang strategis untuk memimpin pengembangan karbon biru di tingkat global.

Menurutnya, kepemimpinan tersebut hanya dapat terwujud melalui penyelarasan kelembagaan, kebijakan yang terintegrasi, serta mekanisme pembiayaan yang terkoordinasi.

“Integrasi isu kelautan ke dalam agenda iklim nasional dan global dapat memperkuat diplomasi iklim kelautan Indonesia di berbagai forum internasional,” ujarnya.

KKP mencatat Indonesia adalah rumah bagi sekitar 17 persen ekosistem karbon biru global, termasuk mangrove, lamun dan rawa payau.

Dengan wilayah laut yang mencakup hampir tiga perempat dari total wilayah nasional, potensi ekonomi biru Indonesia diperkirakan mencapai 1,3 triliun dolar AS.

Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup Ary Sudjianto menambahkan kebijakan karbon biru harus selaras dengan NDC Kedua Indonesia.

Menurutnya, langkah tersebut penting agar kontribusinya terhadap target penurunan emisi 31,89 persen secara mandiri dan 43,2 persen dengan dukungan internasional dapat terukur dan akuntabel.

Sebagai bagian dari upaya percepatan penerapan karbon biru, KKP telah melaksanakan Ocean Climate Dialogue 2026 bersama ClimateWorks Centre dan The Conversation Indonesia pada Rabu (11/2).

Forum ini mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor untuk menyelaraskan sains, tata kelola, pengetahuan akar rumput, serta regulasi dan instrumen keuangan, sehingga ambisi kebijakan karbon biru dapat diwujudkan dalam implementasi konkret.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp84.400/...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...
Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Nasional
Grab Tegaskan Rumor Hengkan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.