Menperin Ungkap Industri Pengolahan Penyumbang Terbesar Ekonomi Nasional

Rabu, 11 Feb 2026, 01:58 WIB

JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar bagi ekonomi Indonesia. Agus menjelaskan bahwa sektor manufaktur terus bertahan dengan sangat baik di tengah ketidakpastian global.

Pertumbuhan industri pengolahan pada tahun 2025 secara meyakinkan telah menyentuh angka sebesar 5,30 persen. Keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras dari seluruh pelaku industri manufaktur di tanah air.

Ket. Foto: Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita — Sumber: Dokumentasi Kementerian Perindustrian

“Berkat jerih payah sektor industri dalam negeri, industri pengolahan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar perekonomian nasional. Kontribusi tersebut melampaui sektor lainnya dalam pertumbuhan ekonomi,” ujar Agus di Jakarta, Selasa (10/2).

Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), Sri Bimo Pratomo, menyatakan industri kimia dan farmasi mencatatkan performa positif. Bimo menjelaskan bahwa sektor tersebut mampu menjaga momentum pertumbuhan industri nonmigas nasional secara berkelanjutan.

Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,11 persen sepanjang tahun lalu. Kontribusi subsektor kimia dan obat tradisional terhadap produk domestik bruto bahkan mencapai 1,83 persen.

“Pertumbuhan IKFT yang sejalan dengan pertumbuhan nasional menunjukkan sektor ini tetap menjadi penopang penting industri pengolahan nonmigas. Sektor tersebut juga mampu menjaga momentum pertumbuhan industri nasional,” ujar Sri Bimo.

Subsektor industri bahan galian bukan logam menunjukkan pemulihan yang sangat signifikan pada periode ini. Sektor tersebut tumbuh sebesar 6,16 persen setelah sebelumnya sempat mengalami kontraksi cukup dalam.

Kinerja ekspor pada sektor IKFT juga berhasil membukukan surplus perdagangan yang sangat memuaskan. Nilai pengiriman barang ke luar negeri telah menembus angka sebesar USD 49,15 miliar.

“Di tengah dinamika global saat ini, permintaan masyarakat dunia terhadap produk IKFT dalam negeri justru meningkat. Angka-angka ini mencerminkan daya tahan sektor IKFT untuk tetap berkontribusi dalam rantai pasok global,” kata Sri Bimo.

Realisasi investasi pada sektor IKFT hingga bulan September 2025 telah mencapai Rp142,15 triliun. Angka penanaman modal tersebut meningkat pesat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Subsektor industri bahan kimia menjadi penyumbang modal terbesar dengan nilai mencapai Rp58,4 triliun. Pemerintah meyakini bahwa aliran investasi ini akan memperkuat struktur industri dari hulu hingga hilir.

Optimisme pelaku usaha tetap terjaga yang tercermin dari angka Indeks Kepercayaan Industri sebesar 54,12. Level ekspansif tersebut menandakan bahwa aktivitas produksi berjalan lebih cepat daripada bulan-bulan sebelumnya.

“Sinyal positif ini menunjukkan optimisme para pelaku industri. Kondisi tersebut menjadi penyemangat bagi pemerintah untuk menjaga iklim usaha yang kondusif agar kinerja sektor IKFT terus meningkat,” ucap Sri Bimo.

Kementerian Perindustrian berkomitmen untuk terus mempercepat pelaksanaan berbagai program prioritas nasional bagi pengusaha. Upaya pendalaman struktur industri dilakukan guna mempercepat substitusi impor dan meningkatkan nilai tambah produk. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.