Russia Siap Hadapi Dunia Baru Tanpa Batasan Nuklir

Kamis, 05 Feb 2026, 02:45 WIB

MOSKWA - Russia siap menghadapi realitas baru dunia tanpa batasan pengendalian senjata nuklir Amerika Serikat (AS) - Russia setelah perjanjian New START berakhir pekan ini, kata juru bicara Moskwa untuk pengendalian senjata pada Selasa (3/2).

Kecuali kedua pihak mencapai kesepakatan di menit-menit terakhir, mereka akan dibiarkan tanpa batasan apa pun terhadap persenjataan nuklir strategis jarak jauh mereka untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, ketika Perjanjian New START berakhir pada Kamis (5/2) ini.

Ket. Foto: Wamenlu Russia, Sergei Ryabkov (tengah), saat menghadiri pertemuan PBB di Jenewa, Swiss, beberapa waktu lalu. Pada Selasa (3/2), Ryabkov menegaskan bahwa Russia siap menghadapi dunia baru tanpa batasan nuklir. — Sumber: AFP/Fabrice COFFRINI

"Ini adalah momen baru, realitas baru, dan kami siap menghadapinya," kata Wakil Menteri Luar Negeri Russia, Sergei Ryabkov, yang mengawasi masalah pengendalian senjata, kepada kantor berita Russia selama kunjungannya ke Beijing untuk konsultasi stabilitas strategis.

Perjanjian New START, yang membatasi jumlah hulu ledak strategis yang dikerahkan hingga 1.550 unit, ditandatangani pada tahun 2010.

Dalam komentarnya kepada New York Times bulan lalu, Presiden AS, Donald Trump, mengindikasikan bahwa ia akan membiarkan perjanjian tersebut berakhir. Namun, ia belum secara resmi menanggapi proposal Russia untuk terus mematuhi batasan misil dan hulu ledak dalam perjanjian tersebut selama satu tahun lagi untuk memberi waktu guna memikirkan langkah selanjutnya setelah perjanjian tersebut berakhir.

"Tidak adanya jawaban juga merupakan sebuah jawaban," kata Ryabkov seperti dikutip TASS di Beijing.

Para pendukung pengendalian senjata di Moskwa dan Washington DC mengatakan bahwa berakhirnya perjanjian tersebut tidak hanya akan menghilangkan batasan hulu ledak, tetapi juga merusak kepercayaan dan kemampuan untuk memverifikasi niat nuklir. Beberapa pihak bahkan khawatir akan terjadinya perlombaan senjata nuklir yang tak terkendali.

Kesepakatan yang dirancang setelah Krisis Misil Kuba tahun 1962 untuk mengurangi bahaya perang nuklir secara bertahap telah hancur, dengan konfrontasi yang meningkat antara Moskwa dan Barat terkait Ukraina dan kekhawatiran AS terhadap Tiongkok.

AS telah menyarankan agar Tiongkok, kekuatan nuklir terbesar ketiga di dunia berdasarkan hulu ledak, bergabung dalam pembicaraan pengendalian senjata. Beijing sejauh ini belum menunjukkan kesediaan untuk melakukannya.

Ryabkov mengatakan bahwa Tiongkok memiliki posisi yang jelas mengenai pengendalian senjata dan Moskwa akan menghormatinya.

Ryabkov juga mengatakan bahwa jika AS mengerahkan sistem pertahanan misil ke Greenland, wilayah otonom Denmark yang merupakan anggota NATO, maka Russia harus mengambil tindakan militer untuk mengimbanginya.

Peringatan Paus

Sementara itu dari vatikan dilaporkan bahwa Pemimpin Gereja Katolik Sedunia, Paus Leo XIV, pada Rabu (4/2) memperingatkan tentang risiko perlombaan senjata baru karena perjanjian nuklir terakhir antara AS dan Russia akan segera berakhir.

"Saya mendesak Anda untuk tidak meninggalkan instrumen ini tanpa berupaya memastikan bahwa instrumen ini ditindaklanjuti secara konkret dan efektif," kata Paus dalam audiensi umum mingguan.

"Situasi saat ini mengharuskan kita untuk melakukan segala yang mungkin untuk mencegah perlombaan senjata baru, yang semakin mengancam perdamaian antar bangsa," tegas dia, seraya mengatakan bahwa lebih mendesak dari sebelumnya untuk mengganti logika ketakutan dan ketidakpercayaan dengan etika bersama yang mampu membimbing pilihan menuju kebaikan bersama. ST/AFP/I-1

  • vladimir putin

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.