Dosen UB Soroti Child Grooming sebagai Masalah Sosial dan Psikologis
📅 Minggu, 01 Feb 2026, 16:16 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SSeiring berjalannya waktu, pelaku berupaya mengisolasi anak dari lingkungan sekitarnya dengan membangun narasi bahwa hanya dirinya yang benar-benar memahami dan peduli. Setelah anak berada dalam kondisi bergantung, pelaku mulai memperkenalkan unsur-unsur yang mengarah pada seksualitas secara perlahan.
“Batas antara aman dan berbahaya menjadi kabur. Anak sering kali belum memiliki pemahaman yang cukup untuk menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan seksual,” jelas Luh Ayu.
Ia juga menekankan bahwa pelaku kerap membangun citra positif di hadapan orang tua dan lingkungan sekitar, sehingga kedekatannya dengan anak dianggap wajar. Kondisi ini membuat praktik child grooming semakin sulit terdeteksi.
Dari sisi korban, anak yang mengalami child grooming kerap mengalami tekanan psikologis berat, seperti rasa malu, takut, dan menyalahkan diri sendiri. Hal tersebut membuat banyak kasus tidak terungkap dan baru diketahui setelah menimbulkan trauma jangka panjang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam upaya pencegahan, kedua dosen UB tersebut menekankan pentingnya peran keluarga, institusi pendidikan, media, tokoh agama, serta pemerintah. Edukasi mengenai perlindungan anak perlu dilakukan secara berkelanjutan dan disesuaikan dengan konteks sosial masyarakat.
Terkait pemberitaan media, Astrida mengingatkan pentingnya penggunaan bahasa yang tidak menyudutkan korban. Media diharapkan tidak menyajikan isu child grooming secara sensasional, melainkan sebagai persoalan sosial yang membutuhkan edukasi dan pencegahan.
Sementara itu, Luh Ayu menegaskan bahwa dalam setiap kasus child grooming, anak harus selalu diposisikan sebagai korban. “Anak tidak boleh disalahkan dalam kondisi apa pun. Perspektif ini penting agar proses pemulihan dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Melalui pendekatan sosiologis dan psikologis, para dosen UB menegaskan bahwa child grooming bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah struktural yang berkaitan erat dengan budaya, relasi kuasa, dan norma sosial. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan kesadaran dan tanggung jawab bersama dari seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan ruang aman bagi anak-anak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!