Bappenas Pede Kakao Bisa Angkat Nasib Petani

Selasa, 27 Jan 2026, 17:05 WIB

JAKARTA – Komoditas kakao memiliki posisi strategis dalam perekonomian global karena menjadi bahan baku utama industri cokelat yang permintaannya relatif stabil dan cenderung meningkat.

Namun, sisi pasokan kakao masih menghadapi tantangan struktural, mulai dari produktivitas kebun yang rendah, tanaman tua, hingga kerentanan terhadap perubahan iklim dan serangan hama. Ketimpangan antara pertumbuhan permintaan dan pasokan inilah yang kerap memicu volatilitas harga di pasar global.

Ket. Foto: Arsip foto - Petani menjemur biji kakao di Desa Aunan Seupakat, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, Aceh. — Sumber: ANTARA FOTO/ Syifa Yulinnas

Bagi negara produsen seperti Indonesia, kakao tidak hanya bernilai sebagai komoditas ekspor, tetapi juga sebagai peluang penguatan industri hilir bernilai tambah, sehingga kebijakan peremajaan, peningkatan kualitas, dan penguatan rantai pasok menjadi kunci keberlanjutan sektor kakao nasional.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard optimistis kakao dapat menjadi komoditas strategis yang meningkatkan kesejahteraan petani.

“Saya optimis dengan adanya koordinasi yang erat dan komitmen bersama, kakao bisa menjadi komoditas strategis yang meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat perekonomian industri, dan berkontribusi nyata dalam pembangunan nasional,” katanya dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pengembangan Kakao di Gedung Bappenas, dari keterangan resmi, Jakarta, Selasa (27/1).

Dalam kesempatan tersebut, dia menekankan urgensi sinergi antara perencanaan dan implementasi guna mempercepat pengembangan sektor kakao di Indonesia.

Menurut Wamen PPN, kakao dan kopi bukan sekedar komoditas pertanian, melainkan berkaitan erat dengan kesejahteraan petani, pembangunan wilayah, serta ketahanan ekonomi nasional jangka panjang.

Rapat koordinasi tersebut menekankan pentingnya pengembangan kakao lintas sektor, melalui kolaborasi antara pemerintah, BUMN, lembaga riset, dan mitra industri untuk menghindari ego sektoral yang menghambat kemajuan.

Karena itu, direncanakan adanya pembentukan Satuan Tugas (Satgas) untuk mendukung, antara lain, pengembangan industri dalam upaya hilirisasi kakao.

Pembahasan yang didiskusikan juga seputar rencana, model baru, dan strategi yang akan diterapkan pada daerah pilot project.

Pengembangan industri kakao ini dimulai di tiga daerah, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Jawa Timur, yang diharapkan dapat menjadi model praktik baik sehingga dapat direplikasi.

“Dalam pengembangan kakao, diperlukan konsistensi dalam implementasinya, mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat, penerapan sistem poliklonal dalam peremajaan dan perluasan tanaman kakao, hingga penerapan Good Agricultural Practices dan Good Handling Practices,” ungkap Wakil Kepala Bappenas.

Diskusi turut menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat, terutama petani, dalam mendukung pelaksanaan program. Pelatihan dan sosialisasi yang memajukan masyarakat dinilai menjadi elemen dasar dalam internalisasi program.

“Langkah ini juga dinilai penting oleh mitra strategis, melihat pengalaman dalam pengembangan industri kakao sebelumnya yang memerlukan komitmen nyata masyarakat,” ungkap Febrian.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.