Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Depot Minyak Rusia Terbakar, Indonesia Diminta Antisipasi Gejolak Energi

📅 Minggu, 25 Jan 2026, 23:59 WIB | Oleh: Tim Penulis

Picu Kenaikan Biaya

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman berpendapat kebakaran itu berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dalam jangka pendek, yang akhirnya memicu kenaikan biaya impor energi bagi Indonesia.

“Dari sisi kebijakan, Pemerintah Indonesia perlu langkah antisipatif yang terukur,” kata Rizal saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (25/1).

Dia menjelaskan, dalam beberapa insiden serupa sepanjang sepanjang 2024–2025, harga minyak Brent tercatat naik di kisaran 1–3 persen secara harian, bergerak dari sekitar 80 dolar AS per barel ke kisaran 82–85 dolar AS per barel.

Kenaikan itu utamanya didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan dan eskalasi konflik dibandingkan soal hilangnya volume produksi global secara signifikan.

“Mengingat produksi minyak dunia masih berada di atas 102 juta barel per hari dengan kapasitas cadangan OPEC+ yang relatif memadai,” tambahnya.

Bagi Indonesia, sekitar 60–65 persen kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional masih dipenuhi dari impor, sehingga setiap kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel dapat menambah beban impor migas hingga 300–400 juta dolar AS per tahun.

Di samping itu, kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi, mengingat komponen transportasi dan energi menyumbang sekitar 15–20 persen dalam keranjang inflasi nasional.

Namun, menurut Rizal, selama lonjakan harga minyak bersifat sementara, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen cenderung masih dapat dikelola.

Untuk mempersiapkan langkah antisipasi, Rizal menyoroti cadangan operasional BBM di Indonesia masih berkisar 20–25 hari konsumsi, relatif terbatas untuk meredam tekanan berkepanjangan.

Pada sisi fiskal, subsidi dan kompensasi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terbilang masih sensitif terhadap pergerakan minyak, di mana setiap kenaikan minyak mentah Indonesia (ICP) 10 dolar AS per barel dapat menambah beban anggaran hingga Rp50–60 triliun.

“Karena itu, kebijakan yang disarankan adalah penguatan cadangan energi. Kemudian, pengelolaan subsidi yang lebih tepat sasaran, dan percepatan diversifikasi energi menjadi kunci untuk mengurangi kerentanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak geopolitik energi ke depan,” tutur Rizal.

Sebagai informasi, serangan drone Ukraina yang menyebabkan kebakaran di depot minyak Rusia di bagian barat terjadi pada Jumat (23/1) pagi waktu setempat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Jaga Stabilitas Ekonomi, Pe...
Luar Negeri
Satu Orang Tewas, Lima Luka...
Megapolitan
Polisi Berhasil Gagalkan Re...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
OJK Sebut Ada 8 Pinjol yang Masuk Pengawasan Khusus

OJK Sebut Ada 8 Pinjol yang Masuk Pengawasan Khusus

07 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.