Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ethiopia-Mesir Berebut Air Sungai Nil

📅 Sabtu, 17 Jan 2026, 21:46 WIB | Oleh:
Ethiopia-Mesir Berebut Air Sungai Nil Doc: AFP

WASHINGTON DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (16/1) menawarkan untuk memulai kembali mediasi AS guna membantu menyelesaikan perselisihan yang telah berlangsung lama terkait pembagian air Sungai Nil antara Mesir dan Ethiopia, menekankan bahwa tidak ada satu negara pun yang boleh menguasai sumber daya sungai itu secara sepihak.

"AS menegaskan bahwa tidak ada negara di kawasan ini yang boleh secara sepihak menguasai sumber daya berharga Sungai Nil, dan merugikan negara-negara tetangganya dalam proses tersebut," kata Trump di platform media sosialnya, Truth Social.

Trump mengatakan bahwa pendekatan yang berhasil akan menjamin pelepasan air yang dapat diprediksi selama musim kemarau dan tahun-tahun kekeringan berkepanjangan bagi Mesir dan Sudan, sekaligus memungkinkan Ethiopia menghasilkan listrik dalam jumlah besar, yang sebagian di antaranya dapat diberikan atau dijual kepada Mesir dan Sudan.

Perselisihan terkait Bendungan Hidase Ethiopia (Grand Ethiopian Renaissance Dam/GERD) di Ethiopia menghadapkan kebutuhan Ethiopia akan pembangunan ekonomi dan listrik dengan kekhawatiran Mesir akan kelangkaan air, karena Nil Biru sangat vital bagi kelangsungan hidup Mesir.

Dalam sebuah pernyataan gabungan, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty dan Menteri Sumber Daya Air dan Irigasi Mesir Hani Sewilam menolak tindakan sepihak di Sungai Nil, yang merujuk pada GERD, serta memperingatkan bahwa Kairo tidak akan menerima bendungan baru di Sungai Nil tanpa kesepakatan hukum terlebih dahulu.

Mesir dan Sudan, yang berada di hilir sungai, telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran tentang pembagian air mereka sejak Ethiopia mulai membangun GERD pada 2011. Pembicaraan trilateral selama bertahun-tahun gagal menghasilkan kesepakatan yang mengikat terkait pengisian dan pengoperasian bendungan itu. Ethiopia memulai peresmian bendungan tersebut pada September 2025.

Mediasi yang dipimpin Washington dimulai pada masa jabatan pertama Trump, tetapi secara efektif terhenti pada 2020 ketika Ethiopia menarik diri, meskipun sejumlah diskusi kemudian berlanjut di bawah naungan Uni Afrika (UA). Ant/Xinhua

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Gempa Bumi M6.1 Guncang Sum...
Advertisement
Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Telah Terjual Lebih dari 55 Ribu Kursi

Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Telah Terjual Lebih dari 55 Ribu Kursi

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.