Herdman: Keberagaman Menjadi Kekuatan Menuju Piala Dunia

Rabu, 14 Jan 2026, 06:21 WIB

JAKARTA - Pelatih asal Inggris John Herdman datang ke Tim Nasional Indonesia bukan sekadar membawa reputasi internasional, melainkan sebuah gagasan besar: menjadikan keberagaman sebagai fondasi kekuatan. Herdman menegaskan, di bawah kepemimpinannya, asal-usul pemain bukan tolok ukur utama. Yang terpenting adalah komitmen, kapasitas, dan kesiapan berjuang demi Merah Putih.

Herdman resmi diperkenalkan sebagai pelatih Timnas Indonesia, Selasa (13/1), di Jakarta. Pengalaman panjangnya di level internasional, terutama saat menukangi Kanada, menjadi bekal utama untuk menghadapi tantangan khas sepak bola Indonesia, menyatukan pemain diaspora dari berbagai negara dengan talenta lokal.

Ket. Foto: Pelatih Timnas Indonesia John Herdman menunjukkan jersey Timnas pada acara perkenalan pelatih baru Timnas Indonesia di Jakarta, Selasa (13/1). — Sumber: ANTARA/Dhemas Reviyanto

Alih-alih melihatnya sebagai persoalan, Herdman justru memandang situasi tersebut sebagai keunggulan kompetitif. “Saya tidak melihat paspor. Saya melihat orang-orang yang berpeluang. Hal terpenting dalam budaya tim adalah menerima bahwa keberagaman adalah kekuatan terbesar. Jika kita menganggapnya kelemahan, maka itu akan benar-benar menjadi kelemahan,” ujar Herdman.

Pandangan itu bukan wacana kosong. Bersama Kanada, Herdman terbiasa bekerja di ruang ganti yang penuh latar belakang berbeda. Di Kanada, ada pemain dari Jamaika, Amerika Selatan, Eropa, hingga Inggris. Yang menyatukan bukan asal-usul, melainkan visi yang jelas. Menurut Herdman, visi bersama adalah perekat utama tim nasional. Semua memiliki tanggung jawab yang sama saat mengenakan seragam negara. Itu juga yang dilihat di Indonesia.

Rekam jejak Herdman terbilang istimewa. Dia membawa Timnas Kanada lolos ke Piala Dunia 2022, mengakhiri penantian 36 tahun. Sebelumnya, dia juga menukangi Timnas Putri Kanada hingga tampil di Piala Dunia 2015. Herdman tercatat sebagai pelatih pertama yang mengantar tim nasional putra dan putri dari satu negara ke ajang Piala Dunia.

Perjalanannya menuju panggung besar sepak bola dunia pun tak instan. Herdman memulai karier sebagai guru olahraga di Consett, Inggris, sempat mengajar di Universitas Northumbria, hingga melatih di akademi Sunderland. Di sana, dia ikut terlibat dalam pembinaan Jordan Henderson, yang kelak menjadi kapten Liverpool dan Timnas Inggris.

Kini, Herdman memikul ekspektasi besar di Indonesia. Dia secara terbuka membidik lolos ke Piala Dunia 2030. “Ini proyek yang sangat menarik. Indonesia siap. Tidak ada lagi alasan,” tegas pelatih berusia 50 tahun itu. Dia menilai potensi Indonesia sangat besar, didukung populasi lebih dari 280 juta jiwa dan kecintaan publik yang masif terhadap sepak bola.

Herdman ditunjuk menggantikan Patrick Kluivert, yang gagal membawa Indonesia lolos ke Piala Dunia terdekat. Sejarah mencatat, Indonesia baru sekali tampil di Piala Dunia, pada 1938, saat masih bernama Hindia Belanda. Sejak itu, mimpi kembali ke panggung tertinggi dunia terus menggantung.

PSSI menyebut penunjukan Herdman sebagai awal era baru. Dengan filosofi menyatukan perbedaan dalam satu visi, Herdman berharap Timnas Indonesia tak sekadar dihuni talenta, tetapi tampil sebagai satu kesatuan yang solid. ben/G-1

  • pelatih timnas indonesia

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.