Demokrasi Indonesia Dibilang Cacat, Tokoh Gerakan Nurani Bangsa Ungkap Skornya versi EIU

Selasa, 13 Jan 2026, 18:45 WIB

JAKARTA - Tokoh Gerakan Nurani Bangsa (GNB) Omi Komaria Nurcholis Madjid menyoroti kondisi demokrasi Indonesia yang dinilai masih jauh dari ideal. Ia mengungkapkan penilaian tersebut merujuk pada laporan Economist Intelligence Unit (EIU) tahun 2025.

Dalam laporan tersebut, indeks demokrasi Indonesia tercatat berada di angka 6,30 dari skala 10. Skor itu menempatkan Indonesia dalam kategori flawed democracy atau demokrasi yang cacat.

Ket. Foto: Tokoh Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menyoroti kondisi demokrasi Indonesia yang dinilai masih jauh dari ideal. — Sumber: Koran Jakarta/Paundra Zakirulloh

Omi menyampaikan pandangannya dalam kegiatan Pesan Kebangsaan Awal Tahun 2025 yang diselenggarakan Gerakan Nurani Bangsa. Acara tersebut digelar di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Selasa (13/1/2026), dan dihadiri tokoh lintas agama serta masyarakat sipil.

"Indonesia dikategorikan sebagai negara demokrasi yang cacat," ujar Omi saat menyampaikan paparannya. 

Ia menambahkan bahwa pemilihan umum memang berjalan, namun masih menyisakan persoalan serius dalam praktik demokrasi.

"Pemilihan umum berjalan dengan baik, tetapi masih terdapat persoalan serius dalam budaya politik, penghormatan terhadap kebebasan sipil, serta fungsi lembaga-lembaga pemerintahan," katanya. 

Pernyataan itu menegaskan bahwa demokrasi Indonesia belum sepenuhnya substantif.

Omi menilai demokrasi tidak boleh berhenti pada aspek prosedural semata. Menurutnya, demokrasi yang sehat harus dibarengi dengan tata kelola pemerintahan yang akuntabel dan penegakan hukum yang adil serta transparan.

Ia juga menekankan pentingnya ruang aman bagi warga negara untuk berpartisipasi secara bermakna. Tanpa jaminan kebebasan menyampaikan aspirasi, demokrasi dinilai kehilangan esensi utamanya sebagai wujud kedaulatan rakyat.

"Diperlukan mekanisme pemerintahan yang mampu menjamin kemerdekaan warga," ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa instrumen negara juga harus berfungsi sebagai penggerak utama mandat kedaulatan rakyat.

Lebih jauh, Omi menegaskan bahwa kemajuan dan martabat suatu negara sangat ditentukan oleh penghormatan terhadap hak-hak dasar warga negara. Ia menilai masih banyak persoalan mendasar yang belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

"Banyak hal yang belum sepenuhnya dirasakan rakyat," kata Omi. 

Ia menyebut kesenjangan pendapatan dan kemiskinan masih menjadi masalah serius yang menghambat tercapainya kesejahteraan bersama.

Menurut Omi, ketimpangan sosial yang terus menganga menunjukkan perlunya kebijakan negara yang lebih berpihak pada rakyat. Tanpa perbaikan nyata di sektor ekonomi dan sosial, demokrasi sulit memberikan dampak langsung bagi kualitas hidup warga.

Sementara itu, tokoh GNB lainnya yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Alissa Wahid, turut menegaskan pentingnya menjaga demokrasi. Ia menyebut demokrasi merupakan manifestasi langsung dari kedaulatan rakyat yang tidak boleh dilemahkan.

"Demokrasi harus terus dirawat dengan memperkuat pemerintahan yang menjunjung prinsip penegakan hukum dan penghormatan HAM," ujar Alissa. 

Ia menekankan bahwa tujuan akhirnya adalah mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat.

Alissa menilai penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia menjadi fondasi utama dalam memperkuat demokrasi. Tanpa perlindungan HAM yang konsisten, praktik demokrasi berisiko mengalami kemunduran.

Pandangan para tokoh GNB tersebut mencerminkan kegelisahan masyarakat sipil terhadap arah demokrasi Indonesia saat ini. Sorotan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kualitas demokrasi tidak hanya diukur dari pemilu, tetapi juga dari kebebasan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

Hobi Unik Febry Arnold, Diaspora Indonesia yang Gemar Taklukkan Maraton

Juventus Start Sempurna Raih Tiga Poin! Frosinone Jadi Korban di Pekan Pertama Serie A

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.