Ketua Umum Kadin Dorong Kopi, Teh, Kakao Jadi Komoditas Unggulan
📅 Senin, 12 Jan 2026, 17:50 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: RRI/Eliana Zahra
JAKARTA - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, mendorong penguatan kopi, teh, dan kakao sebagai komoditas unggulan nasional. Anindya menilai penguatan kopi, teh dan kakao penting untuk memperkuat perdagangan dan posisi Indonesia di pasar global.
Anindya menyampaikan pembahasan tersebut muncul dalam agenda kerja sama perdagangan internasional. Ia menilai momentum global perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah agrikultur nasional.
“Bicara kopi, teh dan kakao, selama ini selalu pasar perdagangannya di Inggris. Nah kita menjajaki misalnya paling tidak mulai dari kopi,” ujar Anindya usai menghadiri pertemuan dengan Menteri Perdagangan RI di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (12/1).
Anindya menegaskan Indonesia memiliki posisi strategis sebagai produsen kopi dunia. Ia menilai kekuatan produksi nasional menjadi dasar memperjuangkan pusat perdagangan di dalam negeri.
“Kita istilahnya nomor tiga terbesar di dunia, selain Brazil, Kolombia. Pusat perdagangannya bisa di Indonesia,” kata Anindya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Anindya menyebut Indonesia memiliki kelengkapan varietas kopi nasional. Ia menilai keunggulan tersebut memperkuat daya saing kopi Indonesia.
“Dari Arabica, Robusta sampai Kopi Luwak pun juga ada di sini. Kalau bisa seperti itu kan kita akan lengkap,” ucap Anindya.
Anindya menyampaikan penguatan koteka sejalan dengan program hilirisasi pemerintah. Ia menilai sektor tersebut menyerap tenaga kerja besar dan berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dan ini merupakan salah satu dari program pemerintah untuk hilirisasi dari agrikultur. Hal ini juga membutuhkan tenaga kerja yang banyak,” ujar Anindya.
Anindya menyoroti perkembangan industri kopi nasional dari hulu hingga hilir. Anindya menilai pertumbuhan produsen dan ritel memperkuat ekosistem kopi nasional.
Anindya menilai pasar domestik Indonesia menjadi kekuatan utama kopi, teh dan kakao. Ia menyebut jumlah penduduk besar memperkuat permintaan nasional.
“Indonesia bukan pasar yang kecil 285 juta orang. Banyak sekali merek-merek dalam negeri yang sudah maju,” kata Anindya.
Anindya menegaskan Indonesia layak memperjuangkan penetapan harga perdagangan kopi, teh dan kopi. Ia menilai perjuangan tersebut membutuhkan proses panjang.
“Kalau ekonomi soft skillnya ada di Indonesia masuk akal kita juga bermimpi atau berupaya. Supaya pasar pedagangan itu harganya ditetapkan oleh Indonesia,” ucap Anindya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!