Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Junta Gelar Pemilu Tahap Kedua

8 Senin, 12 Jan 2026, 02:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Junta Gelar Pemilu Tahap Kedua Junta Gelar Pemilu Tahap Kedua Doc: AFP/Sai Aung MAIN
Ket. Seorang perempuan mencelupkan jarinya ke tinta usai memberikan hak suaranya di sebuah TPS  di Kawhmu, Yangon, Myanmar. Pada Minggu (11/12) Myanmar menggelar pemilu tahap kedua yang disebut oleh seorang pakar HAM PBB sebagai sebuah pemilu sandiwara.

KAWHMU - Myanmar pada Minggu (11/1) menggelar pemungutan suara tahap kedua yang diselenggarakan oleh komisi pemilihan yang ditunjuk junta, dengan surat suara tersebut tidak mengikutsertakan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi, pemenang telak dalam dua pemilihan umum terakhir, yang dilarang setelah kudeta tahun 2021.

Junta menggelar tahap kedua pemilu yang menurut para pengawas demokrasi akan memungkinkan militer memperpanjang kekuasaannya, dengan membuka pemungutan suara di daerah pemilihan mantan pemimpin demokrasi Aung San Suu Kyi di Kawhmu di selatan pusat perdagangan Yangon.

Angkatan bersenjata telah memerintah Myanmar selama sebagian besar sejarah pasca-kemerdekaannya, merebut kembali kekuasaan dalam kudeta tahun 2021 setelah pencairan demokrasi selama satu dekade, membatalkan pemilu sebelumnya, menahan Suu Kyi, dan menjerumuskan negara itu ke dalam perang saudara.

Dengan Suu Kyi yang tersingkir dan partainya yang sangat populer dibubarkan, para pendukung demokrasi mengatakan bahwa pemilu telah dimanipulasi melalui penindakan terhadap perbedaan pendapat dan daftar calon yang diisi dengan sekutu militer.

Junta militer telah berjanji bahwa pemilu tiga tahap ini akan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat setelah kekuasaan mereka berakhir pada 25 Januari.

Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (USDP), yang oleh banyak analis digambarkan sebagai proksi utama militer, memenangkan hampir 90 persen kursi di majelis rendah pada tahap pertama pemilu akhir bulan lalu.

Pemilu tahap pertama sendiri memiliki tingkat partisipasi sekitar 50 persen, jauh di bawah angka sekitar 70 persen pada pemilu 2020 ketika sebagian besar pemilih mendukung partai Suu Kyi.

"USDP berada di jalur yang tepat untuk meraih kemenangan telak, yang hampir tidak mengejutkan mengingat sejauh mana kondisi politik telah diatur sedemikian rupa untuk menguntungkan mereka. Ini termasuk penyingkiran semua pesaing serius dan serangkaian undang-undang yang dirancang untuk membungkam oposisi terhadap pemilu," komentar Richard Horsey, penasihat senior Myanmar untuk Crisis Group.

Bersihkan Citra

Para analis mengatakan junta berusaha membersihkan citranya, dengan tujuan memperbaiki hubungan diplomatik, meningkatkan investasi asing, dan melemahkan momentum pemberontak.

"Junta merekayasa pemilu untuk memastikan kemenangan bagi proksinya, memperkuat dominasi militer di Myanmar, dan menciptakan kedok legitimasi sementara kekerasan dan penindasan terus berlanjut tanpa henti," kata pakar hak asasi manusia PBB, Tom Andrews, dalam sebuah pernyataan pada Kamis (8/1) lalu, seraya mendesak komunitas internasional untuk menolak apa yang disebutnya sebagai pemilu sandiwara dengan mengatakan bahwa putaran pertama pemilu mengungkapkan adanya paksaan, kekerasan, dan pengucilan politik.

Terlepas dari hasil pemungutan suara, seperempat kursi parlemen akan dicadangkan untuk angkatan bersenjata berdasarkan konstitusi yang dirancang selama periode pemerintahan militer sebelumnya.

Pasukan keamanan di Myanmar telah menumpas protes prodemokrasi sejak kudeta, tetapi para aktivis membentuk unit gerilya yang tidak terorganisir, sering kali bertempur bersama pasukan minoritas etnis yang telah lama menentang pemerintahan pusat.

Pemungutan suara sendiri telah dibatalkan di puluhan daerah pemilihan, banyak diantaranya merupakan medan pertempuran atau wilayah tempat pemberontak menjalankan pemerintahan paralel di luar jangkauan junta.

Militer melancarkan serangan, yang menurut saksi mata termasuk serangan udara yang menargetkan lokasi sipil, dalam upaya untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai sebelum pemungutan suara.

Tidak ada angka resmi korban jiwa dalam perang saudara di Myanmar, tetapi kelompok pemantau ACLED, yang menghitung laporan media tentang kekerasan, memperkirakan bahwa 90.000 orang telah tewas di kedua belah pihak. AFP/CNA/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Soekarno Run Jadi Gerakan A...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

08 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.