Surplus Dagang Menyusut, Rupiah Terancam, Ekonom: Ini Bukan Sekadar Angka, Tapi Alarm Stabilitas!
Minggu, 08 Nov 2026, 13:50 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA-Penyusutan surplus perdagangan Indonesia bukan sekadar angka statistik. Bagi Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, Y.B. Suhartoko, ini adalah alarm bagi stabilitas ekonomi, karena bisa memperberat defisit neraca transaksi berjalan dan menekan nilai tukar rupiah.
Suhartoko menjelaskan, neraca transaksi berjalan terdiri dari empat komponen, yakni neraca perdagangan, neraca jasa, neraca pendapatan primer atau pendapatan faktor produksi, dan neraca pendapatan sekunder yang mencatat transaksi berjalan yang bersifat sepihak.
Selama lima tahun terakhir, yakni 2021-2025 hingga berjalan 2026, neraca perdagangan Indonesia secara konsisten surplus, ditopang kinerja ekspor nonmigas seperti bahan bakar mineral dan nikel, meski mulai menghadapi fluktuasi global dan tekanan pada sektor migas.
Namun, kondisi neraca transaksi berjalan dalam lima tahun terakhir (2022-2026) menunjukkan tren fluktuatif. Sempat mencatat surplus berkat boom komoditas, namun kembali mengalami tekanan defisit yang signifikan setelah itu.
"Turunnya surplus neraca perdagangan semakin memperberat kondisi defisit neraca transaksi berjalan," ujar Suhartoko, Minggu (8/11).
Sebaiknya Anda baca juga:
Dampaknya, kata dia, langsung terasa ke rupiah. Defisit neraca transaksi berjalan akan meningkatkan permintaan valuta asing dan menyebabkan depresiasi rupiah dan terganggunya stabilitas ekonomi.
"Dampak defisit neraca transaksi berjalan adalah peningkatan permintaan valuta asing dan menyebabkan depresiasi rupiah dan terganggunya stabilitas ekonomi," tegasnya.
Suhartoko menegaskan, dalam jangka pendek tren penyusutan surplus tidak otomatis bisa dibalik. Solusinya harus ditempuh dalam jangka menengah dan panjang.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dalam jangka pendek tidak otomatis bisa dilakukan. Namun jangka menengah dan panjang perlu diperluas komoditas ekspor, terutama yang mempunyai value added tinggi," ujarnya.
Perluasan itu, kata dia, hanya bisa dilakukan jika pembangunan industri hilirnya kuat dan berkelanjutan karena ketersediaan bahan baku.
"Ini bisa dilakukan jika pembangunan industri hilirnya kuat dan berkelanjutan karena ketersediaan bahan baku," kata Suhartoko.
Selain hilirisasi, pemerintah juga perlu melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor untuk menambah pasar dan tidak bergantung pada segelintir negara mitra.
"Selain itu diversifikasi negara tujuan ekspor perlu dilakukan untuk menambah pasar,"ungkap dia.
Perlu diantiasipasi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia selama Januari-September 2026 mencapai 10,61 miliar dollar AS, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 33,48 miliar dollar AS.
Penyusutan surplus terjadi seiring peningkatan impor sebesar 19,67 persen secara tahunan menjadi 210,63 miliar dollar AS. Sementara itu, ekspor hanya tumbuh 5,58 persen menjadi 221,23 miliar dollar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!