Berpotensi Melemah Lanjutan, 9 Januari 2026

Jumat, 09 Jan 2026, 08:40 WIB

JAKARTA - Rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan akhir pekan, seiring dominasi sentimen eksternal yang membentuk arah pasar. Ketidakpas­tian global, penguatan dolar AS, serta sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko membatasi ruang penguat­an rupiah, meskipun faktor domestik relatif stabil dan belum cukup kuat menjadi penopang utama.

Pengamat mata uang dan komo­ditas Ibrahim Assuaibi melihat sentimen eksternal masih akan mendominasi pergerakan rupiah. Investor bakal mencermati sejumlah data penting Amerika Serikat (AS), seperti klaim pengangguran awal mingguan dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP).

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Perkembangan di sektor te­naga kerja AS ini diperkirakan akan memengaruhi arah dollar AS dan aset global. Apabila pasar tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan lanjutan, kondisi tersebut berpoten­si mendorong kenaikan harga emas sekaligus memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, ter­masuk rupiah.

Karenanya, Ibrahim memproyek­sikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Jumat (9/1), bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah lanjutan di kisaran 16.780 - 16.810 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis (8/1), bergerak melemah 18 poin atau 0,11 persen dari sehari sebelumnya men­jadi 16.798 rupiah per dollar AS.

Ibrahim menilai pelemahan ini diiringi aktivitas bisnis di AS yang membaik. Purchasing Managers’ Index (PMI) Jasa ISM melonjak dari 52,6 menjadi 54,4, jauh melampaui ekspektasi 52,3.

“Data ekonomi AS menunjukkan bahwa aktivitas bisnis membaik, pa­sar tenaga kerja juga menunjukkan tanda-tanda yang lebih baik dari yang diperkirakan,” ujarnya.

Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS merilis laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) bulan November 2025 yang menun­jukkan lowongan pekerjaan menurun menjadi 7,14 juta, turun dari 7,44 juta dibandingkan Oktober. Ini dinilai me­nunjukkan pendinginan bertahap da­lam permintaan tenaga kerja.

Perubahan Ketenagakerjaan Au­tomatic Data Processing (ADP) juga menunjukkan penggajian swasta meningkat sebesar 41 ribu pada bu­lan Desember, kurang dari perkiraan sebesar 47 ribu, tetapi menandai pe­ningkatan yang jelas dari kehilangan pekerjaan sebesar 29 ribu pada bulan November.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.