Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Prof Agus Trihartono Minta Indonesia Sampaikan Sikap soal Agresi AS terhadap Venezuela

📅 Rabu, 07 Jan 2026, 12:58 WIB | Oleh:
Prof Agus Trihartono Minta Indonesia Sampaikan Sikap soal Agresi AS terhadap Venezuela Doc: Antara Foto
Ket. Guru besar Hubungan Internasional Universitas Jember Prof. Agus Trihartono.

Guru besar hubungan internasional Universitas Jember (Unej) Prof. Agus Trihartono mendorong Pemerintah Indonesia menyampaikan sikapnya kepada dunia atas agresi yang dilakukan Amerika Serikat kepada Venezuela.

"Indonesia perlu berani bersuara ketika hukum internasional dilanggar, memperkuat peran regional dan multilateral, dan aktif mendorong reformasi tata kelola global," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu.

Menurutnya, politik luar negeri bebas-aktif bukan berarti menyenangkan semua pihak, tetapi terlibat secara cerdas untuk menjaga dunia agar tidak sepenuhnya jatuh ke hukum rimba.

"Invasi itu juga harus meningkatkan kewaspadaan Indonesia terhadap narasi keamanan global," tuturnya.

Pengajar hubungan internasional FISIP Unej itu mengatakan Indonesia harus membaca peristiwa agresi AS ke Venezuela yang dilakukan secara sepihak sebagai peringatan.

"Mungkin Indonesia perlu melakukan diplomasi lebih aktif dengan posisi yang jelas. Indonesia perlu tetap konsisten membela prinsip anti-agresi, siapa pun pelakunya, karena hari ini menimpa Venezuela, besok bisa menimpa negara lain," katanya.

Agus menjelaskan invasi AS ke Venezuela sebagai peringatan keras bahwa perdamaian global tidak pernah hadir dengan sendirinya, sehingga harus terus dijaga, diuji, dan dikritisi.

"Bahaya terbesar justru muncul ketika dunia membiarkannya, serta mulai terbiasa dengan pelanggaran hukum, lalu menerimanya sebagai hal wajar. Itu sangat berbahaya," ujarnya.

Ia mengatakan Piagam PBB secara tegas melarang penggunaan kekuatan militer, tetapi ketika pelanggarnya adalah negara besar, maka hukum sering kali tidak berdaya. Hal itu menunjukkan jurang antara norma dan realitas global.

Ketika pelanggaran-pelanggaran itu tidak menimbulkan konsekuensi hukum serius, maka dunia perlahan belajar bahwa “kekuatan militer bisa mengalahkan aturan”, bahwa negara kuat dapat bertindak lebih dulu lalu mencari pembenaran belakangan, sementara negara yang lemah atau tanpa aliansi menjadi paling rentan.

"Preseden itu berbahaya karena mengubah invasi menjadi pilihan politik. Jika hukum internasional terus diabaikan, tidak ada negara yang benar-benar aman, hari ini Venezuela, kemarin Irak dan Ukraina, dan besok bisa siapa saja, sehingga Indonesia juga harus bersiap dengan semua kemungkinan itu," 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.