Kementerian PU Turun ke Lapangan, Saluran Air Pante Lhong Jadi Sorotan
📅 Jumat, 02 Jan 2026, 04:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengidentifikasi kondisi Bendung dan Jaringan Irigasi Daerah Irigasi (D.I.) Pante Lhong di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh pascabencana Sumatera.
“Untuk D.I ini harus diidentifikasi dan dibuatkan desain penanganan dulu karena sungainya melebar sangat signifikan supaya bendung ini dapat tetap dimanfaatkan," kata Menteri PU Dody Hanggodo dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (2/1).
Ia menjelaskan, saat prosesnya nanti, akan melibatkan padat karya untuk normalisasi saluran irigasi agar bisa mengalirkan air ke sawah-sawah.
Disebutkan, identifikasi tersebut sebagai langkah awal penanganan kerusakan infrastruktur irigasi akibat kejadian banjir dan limpasan air (overtopping).
Bendung D.I. Pante Lhong merupakan sumber utama penyediaan air irigasi untuk layanan persawahan seluas 6.562 hektare melalui bangunan pengambil air (intake) sebelah kiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan hasil peninjauan awal, katanya, bendung saat ini tidak dapat berfungsi secara optimal akibat endapan sedimen yang terjadi pada bangunan pengambil/penangkap air dan apron mercu.
Kerusakan juga teridentifikasi pada tanggul kanan di bagian hulu bendung, serta adanya endapan sedimen pada penyaring sampah (trash rack), kantong lumpur dan pembilas kantong lumpur.
Kondisi tersebut diperparah dari kejadian limpasan air yang menyebabkan putusnya tanggul sungai di hulu hingga berdampak pada tubuh bendung.
Sebaiknya Anda baca juga:
Agar Bendung D.I. Pante Lhong dapat kembali difungsikan, katanya, diperlukan penanganan berupa pembangunan kembali tanggul, normalisasi penyaring sampah, serta normalisasi kantong lumpur.
Selain kerusakan pada bangunan utama bendung, hasil identifikasi juga menunjukkan kerusakan signifikan pada jaringan irigasi dan area persawahan D.I. Pante Lhong.
Sejumlah saluran tertutup mengalami keruntuhan akibat genangan, serta hilangnya tanggul pada beberapa ruas saluran akibat limpasan air.
Endapan sedimen juga ditemukan pada saluran sekunder serta area persawahan, dengan luasan sawah terdampak mencapai sekitar 1.282 hektare. Kondisi ini menyebabkan terganggunya distribusi air irigasi dan menurunnya fungsi layanan irigasi bagi petani.
Untuk memulihkan fungsi jaringan irigasi dan area persawahan, diperlukan pekerjaan rehabilitasi saluran yang rusak, normalisasi saluran, serta rehabilitasi lahan pertanian yang terdampak banjir.
Rp79 miliar
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!