Peternakan Rakyat di Sumedang: Domba dan Kambing dalam Tradisi dan Penghidupan
📅 Minggu, 21 Des 2025, 19:00 WIB | Oleh: Tim PenulisSementara itu, data Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Sumedang per Februari 2025 mencatat populasi domba mencapai 82.040 ekor. Disusul kambing sebanyak 34.690 ekor, sapi potong 29.400 ekor, dan sapi perah 4.215 ekor. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa peternakan rakyat bukan sekadar aktivitas sampingan, melainkan kekuatan nyata bagi perekonomian daerah.
Magnet wisata
Dengan kemasan yang tepat, ketangkasan domba bahkan berpotensi menjadi daya tarik wisata. Tradisi lokal bertemu dengan minat publik, menghadirkan pengalaman khas yang tak dimiliki daerah lain. Ini bukan sekadar tontonan, tapi juga peluang ekonomi.
Masyarakat hanya perlu membayar parkir Rp5 ribu untuk tiket masuk, nilai kecil namun menjadi masukan kas yang berharga bagi masyarakat lokal, Linmas diberdayakan, masyarakat lokal juga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Puluhan UMKM yang mengambil peluang pada acara tersebut tercatat sekitar lebih dari 25 kios UMKM berdiri di lokasi ditambah puluhan PKL yang ikut memadati jalan sekitar lokasi untuk berjualan. Acara ini menarik perekonomian untuk tumbuh di kawasan perbukitan Rancakalong.
Seorang pengunjung asal Cimahi, Citra Dewi, mengaku sengaja datang ke Sumedang untuk melihat langsung kegiatan tersebut.
"Sekalian liburan, ternyata ada acara ini. Kambing-kambingnya bagus, terutama yang kecil. Katanya jenis pygmy, saya baru pertama kali lihat," kata Citra
Lebih dari 200 peserta terlibat, dengan ratusan ekor domba diturunkan ke arena. Ini bukan praktik pinggiran, melainkan ekosistem hidup yang terus berkembang. Di sela-sela kontes, susu kambing dibagikan sebagai bagian dari kegiatan sosial menegaskan bahwa peternakan bukan hanya soal untung, tapi juga manfaatnya.
Penyelenggaraan acara pun dirancang bertahap. Hari pertama dikhususkan untuk peserta dari Sumedang, sebelum dibuka untuk umum di hari berikutnya. Pendekatan ini menegaskan keberpihakan pada peternak lokal, sekaligus menjaga kualitas kompetisi.
Tujuannya sederhana namun penting, yakni memperkuat silaturahmi dan meningkatkan hasil budidaya. Hewan-hewan yang tampil di arena bukan hanya dipertontonkan, tapi menjadi contoh nyata bagaimana kualitas ternak bisa ditingkatkan.
Apa yang terjadi di arena mungkin hanya berlangsung dua hari. Tapi maknanya jauh lebih panjang. Ia adalah cerminan bagaimana tradisi lokal, ketika dirawat dengan pendekatan modern dan kolaboratif, mampu menjadi motor penggerak ekonomi rakyat.
Dari kandang-kandang sederhana di desa, Sumedang menunjukkan bahwa masa depan peternakan rakyat bukan sekadar bertahan, tetapi tumbuh dengan identitas, nilai, dan daya saingnya sendiri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!