Jangan Menjadikan Kekalahan sebagai Pelajaran Terus, Lalu Kapan Menangnya

Rabu, 17 Des 2025, 13:29 WIB

JAKARTA – Boleh saja para pemain olahraga mana pun menjadikan kekalahan sebagai pelajaran. Namun, jangan hanya begitu terus, lalu kapan menangnya, kalau hanya menjadikan pelajaran setiap kekalahan.

Hal ini menyikapi pernyataan ganda campuran Indonesia Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu yang menjadikan kekalahan dari pasangan Tiongkok Feng Zhe/Huang Ping pada laga Grup B BWF World Tour Finals 2025, Rabu, menjadi pelajaran berharga untuk laga berikutnya.

Ket. Foto: perlu dorongan dari dalam untuk menang — Sumber: ist

Pada pertandingan yang digelar di Hangzhou, Tiongkok itu, Jafar/Felisha takluk  18-21, 16-21 kepada lawannya yang berstatus nomor dua dunia itu. "Kami memang harus siap dengan segala kondisi. Kalau mau menembus ke level atas, ya, mau tidak mau harus melewati lawan-lawan seperti mereka," ujar Jafar dalam keterangan PBSI pada Rabu.

Felisha menimpali bahwa mereka harus memperbaiki banyak hal agar lebih baik pada laga berikutnya. Beberapa hal yang perlu dievaluasi, menurut dia, adalah aspek teknik, tenaga dan fisik.

"Selain itu, kami juga harus meningkatkan faktor nonteknis seperti fokus dan mental. Kalau mau menembus level mereka (Feng/Huang), kualitas kami harus benar-benar sama, bahkan lebih, karena kualitas mereka itu luar biasa," tutur Felisha.

Berikutnya dalam laga Grup B ganda campuran turnamen ini pada Kamis (18/12), Jafar/Felisha akan menghadapi ganda campuran nomor tiga dunia dari Malaysia, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei.

Untuk meraih hasil maksimal pada laga tersebut, Jafar menyebutkan bahwsa dia dan Felisha harus bermain nekat. Mereka juga harus fokus karena Chen/Toh mempunyai kualitas untuk terus mengejar poin. "Ketika sedang unggul, kami harus benar-benar menjaga poin. Fokus mesti ditingkatkan karena poin bisa cepat sekali terbuang," kata Jafar.

Kekalahan dari Feng/Huang membuat Jafar/Felisha berada di posisi ketiga klasemen Grup B. Posisi pertama diduduki Chen/Toh, yang pada laga pertamanya menundukkan rekan senegaranya Goh Soon Huat/Shevon Jemie Lai 21-13, 21-13, diikuti Feng/Huang di peringkat kedua dan Goh/Shevon di posisi terakhir.

Kalah Kok Puas

Hal sama juga disampaikan Putri KW. Dia kalah tapi puas. Lahhh…kapan menang kalau kalah saja puas. Dia menyatakan, puas dengan performanya meski kalah 16-21, 21-8, 8-21 dari jagoan Korea Selatan An Se-young  pada laga pembuka Grup A BWF World Tour Finals 2025 di Hangzhou, Tiongkok, Rabu.

"Secara keseluruhan saya cukup senang karena bisa bermain hingga rubber game melawan An Se-young. Sebelumnya di Australia final Australian Open 2025, saya kalah straight games," ujar Putri.

Putri menyebut dirinya sudah menampilkan permainan terbaik ketika bersua An Se-young. Putri  menyulitkan tunggal putri nomor satu dunia itu terutama pada gim kedua. An kembali ke penampilan maksimalnya pada gim ketiga yang sulit diladeni Putri.

"An Se-young bermain lebih cepat sehingga bola-bola yang saya terima cukup menyulitkan. Kondisi lapangan dengan bola yang cukup berat dan angin juga berpengaruh, ada sisi menang dan kalah angin," tutur Putri.

Pada laga berikutnya di Grup A, Kamis (18/12), Putri akan melawan Akane Yamaguchi dari Jepang yang pada pertandingan pertamanya di Grup A mengandaskan rekan senegaranya Tomoka Miyazaki dengan 21-14, 21-17.

Menurut Putri, Akane Yamaguchi adalah lawan tangguh yang sangat merepotkan. Oleh karena itu, atlet berusia 23 tahun itu berjanji untuk fokus dan tetap tenang di lapangan.

"Untuk pertandingan besok menghadapi Akane Yamaguchi, saya ingin lebih menjaga pikiran. Saya juga harus siap lelah karena Akane Yamaguchi adalah pemain yang sangat kuat dan tidak mudah dimatikan. Jadi mau tidak mau saya harus siap mengikuti pola permainannya terlebih dahulu," kata Putri.

Kalah dari An Se-young membuat Putri  berada di peringkat ketiga klasemen Grup A. Untuk lolos ke semifinal, Putri harus masuk dua besar grup. PBSI perlu meneliti pernyataan seperti ini. Sebab ini banyak juga diungkapkan pemain lain. Misalnya, Gregoria Mariska Tunjung sering mengungkapkan senang bisa berlaga tanpa cedera, walau kalah. Ini secara psikologis tentu kurang bagus untuk memacu diri ke lebih baik. Harusnya tidak puas, dalam setiap kekalahan agar memacu diri lebih baik ke depan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.