Alarm Bank Dunia: Banjir Sumatera Ancaman Serius bagi Ekonomi RI
📅 Selasa, 16 Des 2025, 16:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Yudi Manar
JAKARTA – Bank Dunia menilai rangkaian bencana banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera berpotensi menekan kinerja perekonomian Indonesia, terutama melalui gangguan pada aktivitas produksi, distribusi, dan infrastruktur logistik.
Kerusakan jalan, jembatan, serta fasilitas publik tidak hanya menghambat arus barang dan jasa, tetapi juga meningkatkan biaya ekonomi dalam jangka pendek.
Selain itu, tekanan terhadap sektor pertanian, UMKM, dan pariwisata di daerah terdampak dapat menurunkan pendapatan masyarakat dan daya beli lokal.
Jika pemulihan berjalan lambat, dampak lanjutan berisiko merembet ke inflasi daerah dan memperlebar ketimpangan antarwilayah, sehingga menuntut respons kebijakan fiskal dan pembiayaan yang cepat serta terkoordinasi untuk menahan efek rambatan ke perekonomian nasional.
Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste David Knight mengatakan, bencana banjir merupakan bagian dari faktor risiko penurunan (downside risk) bagi pertumbuhan ekonomi nasional menjelang akhir 2025 ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Terkait dengan risiko yang merupakan downside risk, tentunya bencana alam seperti banjir yang terjadi di Sumatra dan juga beberapa lokasi lainnya pun juga akan berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian di Indonesia," kata David dalam acara peluncuran laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) di Energy Building, Jakarta, Selasa (16/12).
Adapun banjir dan longsor berskala besar terjadi sejak akhir November 2025 di sejumlah wilayah Sumatera, antara lain Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
David juga memaparkan bahwa ke depan, penerimaan negara juga diperkirakan menghadapi tekanan. Ia menilai keseimbangan antara risiko penurunan dan peluang pertumbuhan sangat bergantung pada keberhasilan sejumlah reformasi pemerintah yang sudah dicanangkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Hal ini penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan ke depan, terutama untuk mempersempit berbagai kesenjangan yang masih ada," ujarnya.
Di sisi lain, Bank Dunia turut mencatat adanya potensi risiko peningkatan (upside risk), antara lain membaiknya pertumbuhan mitra dagang utama seperti China serta harga komoditas ekspor Indonesia yang relatif menguntungkan.
Reformasi perdagangan dan investasi yang berhasil dinilai dapat memperkuat prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian, Bank Dunia mengingatkan bahwa sejumlah tantangan struktural masih membayangi. Salah satunya adalah tekanan terhadap konsumsi masyarakat akibat penurunan upah riil.
Berdasarkan data Bank Dunia, sejak 2018 upah riil turun rata-rata 1,1 persen per tahun. Penurunan paling besar terjadi pada pekerja berketerampilan tinggi yang mencapai 2,3 persen, disusul pekerja berketerampilan menengah sebesar 1,1 persen. Sementara itu, upah pekerja informal atau berketerampilan rendah hanya tumbuh 0,3 persen.
"Bagi pekerja berketerampilan menengah, ini sangat berdampak dan berimbas pada kesejahteraan rumah tangga serta perekonomian secara keseluruhan," kata David.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!