BMKG Tetapkan 14 Zona Gempa Bumi Megathrust, Ini Daftar Lengkap Lokasi dan Potensi Gempanya

Minggu, 14 Des 2025, 17:35 WIB

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi merilis Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang memuat pembaruan signifikan terkait potensi gempa besar di Tanah Air. Dalam dokumen tersebut, BMKG menetapkan 14 zona megathrust yang diklasifikasikan sebagai zona merah.

Pembaruan peta ini menunjukkan meningkatnya potensi gempa besar yang berpotensi disertai tsunami di sejumlah wilayah Indonesia. BMKG menegaskan, pemetaan terbaru ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.

Ket. Foto: — Sumber: ANTARA

BMKG menjelaskan, perubahan peta bukan sekadar penambahan wilayah rawan gempa. Pembaruan ini mencerminkan pergeseran distribusi potensi gempa berdasarkan riset terbaru dan data kegempaan yang terus berkembang.

Jika dibandingkan dengan peta tahun 2017, jumlah zona megathrust kini bertambah satu. Dari sebelumnya 13 zona, kini menjadi 14 zona megathrust yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan sekitarnya.

Penambahan satu zona baru ini menjadi sinyal bahwa daerah yang sebelumnya dinilai relatif aman perlu meninjau ulang kesiapan mitigasi bencana. Langkah tersebut mencakup penguatan infrastruktur, tata ruang, hingga edukasi kebencanaan bagi masyarakat.

BMKG juga mencatat, beberapa zona memiliki potensi gempa dengan magnitudo sangat besar. Salah satunya adalah zona megathrust Jawa yang diperkirakan mampu memicu gempa hingga magnitudo maksimal 9,1.

Selain Jawa, terdapat sejumlah zona lain dengan potensi magnitudo tinggi hingga 8,9. Zona-zona tersebut berada di wilayah Sumatra bagian barat dan kawasan selatan Indonesia.

Berikut daftar 14 zona megathrust versi BMKG 2024 beserta potensi magnitudo maksimalnya:

  1. Zona Megathrust Aceh–Andaman dengan potensi gempa hingga magnitudo 9,2.

  2. Zona Megathrust Nias–Simeulue dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,7.

  3. Zona Megathrust Batu dengan potensi gempa hingga magnitudo 7,8.

  4. Zona Megathrust Mentawai–Siberut dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,9.

  5. Zona Megathrust Mentawai–Pagai dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,9.

  6. Zona Megathrust Enggano dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,9.

  7. Zona Megathrust Jawa dengan potensi gempa hingga magnitudo 9,1.

  8. Zona Megathrust Jawa bagian barat dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,9.

  9. Zona Megathrust Jawa bagian timur dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,9.

  10. Zona Megathrust Sumba dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,9.

  11. Zona Megathrust Sulawesi Utara dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,5.

  12. Zona Megathrust Palung Cotobato dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,3.

  13. Zona Megathrust Filipina Selatan dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,2.

  14. Zona Megathrust Filipina Tengah dengan potensi gempa hingga magnitudo 8,1.

BMKG menilai keberadaan zona-zona ini berpotensi memicu gempa besar akibat pergerakan lempeng tektonik yang saling menekan. Zona megathrust dikenal sebagai sumber gempa paling destruktif karena mampu menghasilkan gempa dangkal berkekuatan tinggi.

Lantas, kapan gempa megathrust akan terjadi? BMKG menegaskan hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu pasti terjadinya gempa megathrust.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan pihaknya terus mengangkat isu megathrust agar masyarakat tidak lengah. Menurutnya, pembahasan ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan meningkatkan kesiapsiagaan.

"Sebetulnya isu megathrust itu bukan isu baru, itu isu yang sudah sangat lama. Tapi kenapa BMKG dan beberapa pakar terus mengingatkan? Tujuannya agar kita tidak hanya bicara, tapi segera melakukan mitigasi," ujar Dwikorita.

BMKG menekankan, edukasi kebencanaan dan kesiapan menghadapi dampak gempa besar menjadi kunci utama. Upaya mitigasi dinilai jauh lebih penting dibandingkan menunggu kepastian waktu terjadinya gempa.

Dengan rilis peta terbaru ini, BMKG berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta kesiapan masyarakat di wilayah rawan. Peta ini menjadi dasar penting dalam perencanaan pembangunan dan pengurangan risiko bencana di Indonesia.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.