Orangutan Tapanuli Terancam Punah Akibat Banjir Dahsyat di Sumatra
Jumat, 12 Des 2025, 14:56 WIBJAKARTA - Banjir dahsyat yang melanda tiga provinsi di Sumatra menyebabkan kerusakan pada habitat orangutan Tapanuli dan prospek kelangsungan hidupnya, demikian peringatan para ilmuwan, Jumat (12/12).
Baru diklasifikasikan secara ilmiah sebagai spesies pada tahun 2017, orangutan Tapanuli sangat langka, dengan jumlah kurang dari 800 ekor yang tersisa di alam liar, terbatas pada wilayah kecil di sebagian Sumatra.
Satu ekor orangutan Tapanuli yang diduga mati ditemukan di wilayah tersebut, kata para konservasionis.
"Kehilangan satu ekor orangutan saja merupakan pukulan telak bagi kelangsungan hidup spesies ini," kata Panut Hadisiswoyo, pendiri dan ketua Pusat Informasi Orangutan di Indonesia.
Analisis citra satelit yang dikombinasikan dengan pengetahuan tentang wilayah jelajah orangutan Tapanuli menunjukkan bahwa banjir yang menewaskan hampir 1.000 orang mungkin juga telah menghancurkan satwa liar itu di wilayah Batang Toru.
Para ilmuwan berfokus pada Blok Barat, wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi dari tiga habitat orangutan Tapanuli yang diketahui, dan merupakan rumah bagi sekitar 581 orangutan Tapanuli sebelum bencana terjadi.
"Kami memperkirakan antara enam dan 11 persen orangutan kemungkinan mati," kata Erik Meijaard, seorang konservasionis orangutan.
"Setiap tingkat kematian orangutan dewasa yang melebihi satu persen, akan mendorong spesies tersebut menuju kepunahan, terlepas dari seberapa besar populasinya pada awalnya," katanya.
Namun, orangutan Tapanuli memiliki populasi dan wilayah jelajah yang sangat kecil sehingga mereka sangat rentan, tambahnya.
Citra satelit menunjukkan luka-luka besar di lanskap pegunungan, beberapa di antaranya membentang lebih dari satu kilometer dan hampir selebar 100 meter, kata Meijaard.
Banjir bandang lumpur, air, dan pohon yang tumbang dari lereng bukit akan menghanyutkan segala sesuatu yang dilewatinya, termasuk satwa liar lainnya seperti gajah.
David Gaveau, seorang ahli penginderaan jauh dan pendiri perusahaan rintisan konservasi The Tree Map, mengatakan ia terkejut dengan perbandingan kondisi sebelum dan sesudah bencana di wilayah tersebut.
"Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya selama 20 tahun saya memantau deforestasi di Indonesia dengan satelit," katanya.
Kerusakan ini berarti orangutan Tapanuli yang tersisa akan semakin rentan, dengan sumber makanan dan tempat berlindung yang kini hanyut.
Lebih dari sembilan persen habitat Blok Barat mungkin telah hancur, menurut perkiraan kelompok ilmuwan tersebut.
Dalam draf makalah yang dibagikan kepada AFP dan akan diterbitkan sebagai pracetak dalam beberapa hari mendatang, mereka memperingatkan bahwa banjir tersebut merupakan "gangguan tingkat kepunahan" bagi orangutan Tapanuli.
Mereka mendesak penghentian segera pembangunan di wilayah tersebut yang akan merusak habitat yang tersisa, perluasan kawasan lindung, survei terperinci terhadap wilayah yang terdampak dan populasi orangutan, serta upaya untuk memulihkan hutan dataran rendah.
Rumah-rumah di dataran tinggi yang saat ini dihuni oleh orangutan bukanlah habitat pilihan mereka, tetapi di situlah orangutan yang tersisa telah terdesak oleh pembangunan di tempat lain.
Panut mengatakan wilayah tersebut menjadi sangat sunyi setelah tanah longsor.
"Habitat yang rapuh dan sensitif di Blok Barat ini harus sepenuhnya dilindungi dengan menghentikan semua pembangunan yang merusak habitat," katanya.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP, Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Juventus Terancam Absen di Liga Champions Musim Depan
-
Pemerintah Jabar Fokus Lunasi Tunggakan BPJS Kesehatan Sebelum 2027
-
Peluncuran Ponsel Emas Trump Seharga $499 Ditunda
-
Lebaran Topat Bangkitkan Ekonomi Masyarakat di Lombok Tengah
-
Diversifikasi Ekonomi Harus Dipacu, OJK Bali Kembangkan Pertanian sebagai Pilar Baru, Jangan Hanya Bertumpu pada Pariwisata!
-
Jelang Libur Imlek, Puluhan Bus di Terminal Kalideres Jalani Ramp Check
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.