Ekonomi Sirkular Diakselerasi, Indonesia Siap Lepas Ketergantungan Bahan Baku Asing
📅 Jumat, 12 Des 2025, 11:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Abdan Syakura.
JAKARTA – Penerapan industri hijau dan ekonomi sirkular semakin penting sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga daya saing sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Dengan mendorong efisiensi energi, pemanfaatan ulang material, serta desain produk yang minim limbah, industri dapat menekan biaya operasional sambil memenuhi standar keberlanjutan global yang kian ketat.
Model sirkular juga membantu mengurangi ketergantungan pada bahan baku baru dan meningkatkan ketahanan rantai pasok.
Bagi pemerintah dan pelaku usaha, transisi ini bukan sekadar tren, tetapi fondasi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih resilient, rendah karbon, dan berorientasi masa depan.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan praktik industri hijau dan penerapan ekonomi sirkular merupakan agenda strategis dalam mewujudkan kemandirian industri dan pertumbuhan perekonomian berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Dengan ekonomi sirkular, industri dapat mengurangi emisi dan limbah sekaligus meningkatkan nilai tambah, mengurangi ketergantungan impor, serta menciptakan lebih banyak green jobs. Inilah arah pembangunan industri masa depan melalui Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN)," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (12/12).
Sejalan dengan arahan Menperin yang menekankan daur ulang atau ekonomi sirkular, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Emmy Suryandari menekankan bahwa praktik tersebut perlu diperkuat melalui optimalisasi layanan teknis yang dimiliki unit-unit pelayanan teknis (UPT) di bawah BSKJI.
Salah satu implementasi nyatanya adalah penerapan konsep Reduce, Reuse, Recycle, Recovery dan Repair (5R) dalam pengelolaan limbah industri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti halnya pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berprinsip sirkular ekonomi menjadi langkah penting untuk memastikan industri dapat mengelola limbah secara aman, efisien dan berkelanjutan.
"UPT di lingkungan BSKJI, kami dorong untuk terus memperkuat kapasitas layanan agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi industri hijau nasional," kata Emmy.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kegiatan serah terima pekerjaan Kerja Sama Konsultansi dan Pendampingan Pembuatan IPAL Domestik di PT Saprotan Utama Nusantara Plant Kalitengah, yang dilaksanakan pada 11 Desember 2025. Program ini dikembangkan oleh Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Pencegahan Pencemaran Industri (BBSPJPPI) Semarang.
Plt. Kepala BBSPJPPI Apit Pria Nugraha mengungkapkan pembangunan IPAL domestik tersebut merupakan bukti nyata peran BBSPJPPI dalam mendukung penerapan prinsip ekonomi sirkular di industri.
IPAL ramah lingkungan ini diharapkan menjadi contoh bagi industri lainnya dalam upaya menjaga keberlanjutan dan efisiensi sumber daya.
"Kami berkomitmen memberikan jasa layanan terbaik yang inovatif dan profesional untuk seluruh industri," tuturnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!