UB Tingkatkan Ketahanan Perairan Pesisir
📅 Kamis, 11 Des 2025, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
MALANG - Universitas Brawijaya (UB) menunjukkan langkah progresif dalam memperkuat peran Indonesia di kancah global, khususnya dalam isu krusial mengenai ketahanan air dan lingkungan pesisir. Tim dari UB, dipimpin oleh Andi Kurniawan, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi, diterima oleh Plt. Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), (Ananto Kusuma Seta, ((di Jakarta. Pertemuan ini menandai momentum penting menuju pengajuan resmi UNESCO Chair on Integrated Ecohydrology and Water Security in Coastal Areas pada tahun 2026, dilaksanakan pada Jumat (5/12/2026).
Proposal yang digagas oleh Coastal and Marine Research Center (PSPK) UB ini lahir dari kesadaran bahwa masalah pesisir—mulai dari intrusi air laut yang semakin dalam, sedimentasi yang parah, hingga penurunan kualitas air yang berdampak pada akuakultur—merupakan tantangan serius, tidak hanya bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, tetapi juga secara global.
UNESCO Chair ini dirancang untuk memberikan solusi ilmiah dan sosial yang nyata. Ananto Kusuma Seta menyambut positif inisiatif ini, menekankan bahwa isutersebut sangat strategis bagi Indonesia. Beliau secara khusus mendukung langkah ini karena Chair ini akan membawa nama Indonesia sebagai pusat pengetahuan (knowledge hub) regional bagi negara-negara kepulauan dan pesisir di Asia Tenggara dan Pasifik. Fokusnya adalah mengembangkan solusi untuk kelangkaan air, intrusi air laut, dan kualitas air pesisir.
Pengajuan ini selaras kuat dengan agenda pembangunan berkelanjutan dan prioritas UNESCO: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG): Secara langsung mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi), SDG 13 (Aksi Iklim), dan SDG 14 (Kehidupan Bawah Air). Hasil (Outcome) Prioritas UNESCO: Mendukung pencapaian: Outcome 2, memperkuat koordinasi internasional untuk SDG 4 dan mengembangkan agenda pendidikan global; Outcome 3, meningkatkan pengetahuan untuk aksi iklim, keanekaragaman hayati, pengelolaan air dan laut, serta pengurangan risiko bencana; Outcome 4, memajukan kerja sama internasional dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi (STI).
Proposal UB mengusung tiga pilar ambisius untuk mentransformasi riset menjadi dampak nyata yaitu, Ecohydrology Observatory, Pembentukan pusat data dan pemantauan kualitas air pesisir. Yang pedua adalah Living Labs, mengubah desa pesisir, seperti di Malang Selatan dan Tuban Utara, menjadi lokasi riset terapan, pendampingan, dan pengembangan program ketahanan air yang langsung terhubung dengan masyarakat. Ketiga adalah Capacity Building, penyelenggaraan summer school ASEAN, policy labs, dan penyusunan panduan “Coastal Ecohydrology for Tropical Archipelagos”.
Sebaiknya Anda baca juga:
Inovasi yang telah diterapkan, seperti Greenhouse Salt Tunnel (GST) untuk produksi garam berkelanjutan dan Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk budidaya ramah lingkungan, memperkuat komitmen UB. KNIU mendorong UB untuk segera memfinalisasi proposal. Bagi UB, UNESCO Chair ini bukan sekadar pengakuan internasional, tetapi sebuah percepatan kontribusi nyata untuk ketahanan air nasional dan regional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!