Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pakar Mitigasi: Penebangan Hutan Masuk Fase Darurat, Harus Segera Dievaluasi

📅 Jumat, 05 Des 2025, 14:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pakar Mitigasi: Penebangan Hutan Masuk Fase Darurat, Harus Segera Dievaluasi Doc: Antara
Ket. Guru Besar Bidang Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya (UB) Prof Sukir Maryanto saat berada di Stasiun Cangar Kota Batu, Jawa Timur.

Malang - Guru Besar Bidang Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya (UB) Prof Sukir Maryanto mengemukakan bahwa bencana banjir bandang di sejumlah wilayah Sumatera mengindikasikan adanya persoalan lingkungan yang mengharuskan segera dilakukan evaluasi terhadap penebangan hutan.

"Selain persoalan lingkungan, banjir bandang di wilayah Sumatera, juga disebabkan lemahnya sistem mitigasi bencana di Indonesia," kata Prof Sukir di Malang, Jawa Timur, Jumat (5/12), merespons terjadinya banjir bandang di wilayah Sumatera.

Prof Sukir mengatakan banyak kayu yang hanyut saat terjadi banjir mengindikasikan adanya penebangan hutan di wilayah itu.

Ia menjelaskan deforestasi masih menjadi persoalan krusial, terutama karena Indonesia berada di bawah rata-rata dunia dalam standar pengelolaan hutan berkelanjutan.

Menurut dia, program pemerintah di masa lalu, seperti ekspansi lahan transmigrasi, perkebunan karet dan sawit, sebagian besar mengorbankan tutupan hutan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Prof Sukir mengatakan ketika ia menjadi transmigran di Sumatera, melihat langsung pohon-pohon besar ditebang untuk pembukaan lahan. Kondisi serupa juga terjadi di berbagai hutan di Sumatera dan Kalimantan.

Menurut dia, banyak kasus pemanfaatan hutan tidak sesuai desain lingkungan, sehingga menimbulkan banjir.

Selain faktor deforestasi, lanjutnya, cuaca ekstrem juga menjadi pemicu utama terjadinya banjir.

Ia mengatakan pada September 2025 hingga Februari 2026 merupakan fase cuaca ekstrem tahunan di Indonesia. “Saat ini kondisi cuaca ekstrem. Siklus ini terjadi tiap tahun,” katanya.

Ia menilai mitigasi bencana dapat dilakukan dengan lebih baik apabila sistem informasi cuaca di Indonesia bekerja secara optimal.

Ia membandingkan kemampuan peringatan dini Indonesia dengan Jepang yang dinilai jauh lebih presisi dan terstruktur. “Di Jepang, ramalan cuaca tersedia per jam dan per wilayah kecil seperti kecamatan, informasinya ada di TV publik, transportasi umum, hingga situs pemerintah," katanya.

Menurut dia, sistem ini memungkinkan masyarakat mengantisipasi hujan, angin kencang atau bencana lainnya lebih cepat dan akurat.

Ia mengatakan BMKG perlu meningkatkan fungsi informasi dan sosialisasi, termasuk memperkuat kolaborasi dengan BRIN, Badan Geologi, serta perguruan tinggi. "Koordinasi antarlembaga masih lemah, sehingga data dan peralatan pemantauan bencana belum terintegrasi dengan baik," ucapnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Pilpres Kolombia Diinterven...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
Luar Negeri
WHO Serukan Negara-Negara C...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.