Seabad Bendungan Walahar, Bagaikan Museum yang Masih Bernyawa
📅 Rabu, 26 Nov 2025, 19:01 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/HO-Dispusda Purwakarta
KARAWANG, JAWA BARAT - Bendungan Walahar, di Kawarang, tetap berdiri tanpa gentar ketika usianya hampir seabad. Tidak banyak bendungan yang berfungsi terus-menerus selama itu, bekerja tanpa henti, siang dan malam, menghadapi pasang surut zaman.
Bendungan Walahar merupakan warisan nusantara yang berdiri megah hampir seabad lamanya. Bendungan ini memiliki pintu-pintu air dari beton tebal dengan tuas besi orisinal, jembatan penghubung dengan pola balustrade klasik (struktur pagar yang terdiri atas tiang vertikal kecil). Juga punya ruang mesin dengan dinding lengkung yang menjadi saksi teknologi saat itu untuk mengelola aliran air.
Di tepian Sungai Citarum, di wilayah Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, bendungan dengan wajah kolonial itu terus mengalirkan air seperti menyalurkan nafas kehidupan bagi ribuan hektare sawah, industri, dan jutaan jiwa manusia.
Dibangun pada 1920 dan diresmikan pada 1925, bendungan selebar 50 meter ini dibuat bukan untuk gagah-gagahan. Bendungan ini diciptakan untuk sebuah misi, menaikkan muka air Sungai Citarum agar bisa mengaliri Karawang utara, lalu mengantar air itu menelusuri Induk Tarum Utara, sebagai urat nadi yang hingga kini terus menghidupi tanah sawah dan manusia-manusianya.
Di antara deru mesin tua dan riuh aliran sungai, Bendungan Walahar seperti museum yang masih bernyawa. Peralatannya, sebagian besar orisinal sejak masa kolonial, tetap bekerja dengan ritme yang tak pernah meleset. Ketangguhan itu bukan sulap, melainkan hasil tangan-tangan telaten para profesional Perum Jasa Tirta (PJT) II yang merawatnya dengan disiplin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Air yang bersumber dari Bendungan Walahar itu mengaliri 174.276 hektare hamparan sawah di Karawang, salah satu daerah yang dikenal sebagai lumbung padi terbesar di Jawa Barat.
Tahun 2024, nilai panen yang bergantung pada irigasi yang bersumber dari air Bendungan Walahar diperkirakan mencapai 7,6 triliun rupiah. Jumlah itu bukan sekadar hitungan ekonomi. Itu adalah wujud rasa aman para petani ketika melihat padi mereka menunduk tanda siap dipanen.
Seiring perjalanan waktu, kini Bendungan Walahar juga menjadi sumber air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di wilayah Karawang, memperluas maknanya dari sekadar pengairan menjadi penjamin kehidupan sehari-hari masyarakat.
Mungkin waktu berubah dan zaman berganti, tetapi Bendungan Walahar tetap berjalan dengan tekad yang sama. Di tengah meningkatnya kebutuhan air baku dan ketidakpastian iklim, PJT II menjaga agar bendungan ini tidak sekadar hidup, tetapi tetap tangguh.
Komunikasi intensif dengan petani, pengawasan lapangan setiap hari, hingga prosedur operasional yang nyaris tak berkurang ketelitiannya sejak awal berdiri, menjadi bukti bahwa merawat air adalah pekerjaan yang memerlukan kesetiaan.
Tak hanya sebagai penopang ketahanan pangan bangsa, dengan daya tarik perpaduan arsitektur Eropa dan Tionghoa, Bendungan Walahar juga mampu menarik wisatawan.
Setiap hari libur, banyak pengunjung datang untuk memancing atau sekadar melepas penat sambil menikmati deburan air yang bersumber dari bendungan.
Alhasil, keberadaannya juga telah mampu menggerakkan perekonomian masyarakat setempat. Keberadaan warung-warung makan di sekitar Bendung Walahar menjadi bukti berputarnya roda perekonomian lokal yang riuh dan ramai.
Seratus tahun juga berarti Bendungan Walahar telah menjadi saksi teknologi yang terus berevolusi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!