RI Tak Mau Tertinggal! Kerja Sama dengan Tiongkok Pacu Lompatan Teknologi Kelautan

Minggu, 23 Nov 2025, 17:45 WIB

JAKARTA – Kerja sama Indonesia dan Tiongkok dalam memperkuat kapabilitas teknologi kelautan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan posisi RI sebagai negara maritim modern.

Kolaborasi ini tidak hanya membuka akses terhadap teknologi survei laut dalam, sistem pemantauan berbasis satelit, dan peningkatan kapasitas riset oseanografi, tetapi juga memperkuat kemampuan Indonesia dalam memetakan potensi sumber daya laut secara lebih akurat dan efisien.

Ket. Foto: Ilustrasi - Dosen Biologi Institut Teknologi Sumatera (ITERA) meneliti konservasi terumbu karang pesisir Teluk Lampung. — Sumber: Istimewa/ Itera

Sinergi tersebut berpotensi mempercepat pengembangan industri kelautan nasional, mulai dari keamanan maritim, pengelolaan perikanan berkelanjutan, hingga pemanfaatan energi laut.

Dengan transfer pengetahuan dan peningkatan kualitas SDM, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada teknologi asing dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, kerja sama ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat kedaulatan maritim sekaligus membuka peluang ekonomi baru di sektor kelautan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan First Institute of Oceanography (FIO) Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok, menggelar Tiongkok-Indonesia Marine Technology Training guna meningkatkan kapabilitas teknologi kelautan Indonesia.

"Program ini dirancang untuk meningkatkan kapabilitas teknologi kelautan Indonesia melalui transfer pengetahuan tingkat lanjut dan inisiatif pengembangan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM)," kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPPSDMKP) KKP I Nyoman Radiarta dalam keterangan di Jakarta, Minggu (23/11).

Dia menyampaikan sinergi itu dilatarbelakangi posisi Indonesia sebagai negara maritim dengan potensi ekonomi biru yang perlu dimanfaatkan secara optimal; kebutuhan mendesak untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas tenaga kerja teknologi kelautan.

Selain itu, keberhasilan inisiatif kerja sama maritim Indonesia-Tiongkok; pentingnya adopsi teknologi berkelanjutan untuk mencapai target netralitas karbon; serta meningkatnya permintaan akan tenaga profesional teknologi kelautan.

Dia menuturkan pelatihan tersebut para peserta mendapat pengetahuan di berbagai bidang sektor kelautan dan perikanan, antara lain kebijakan ekonomi biru (di Tiongkok dan Indonesia); restorasi ekologi kelautan; dan aplikasi pigment alami.

Kemudian budi daya alga dan netralitas karbon (budi daya rumput laut: cara yang menjanjikan untuk memitigasi perubahan iklim); teknologi akuakultur berkelanjutan; serta penilaian dampak lingkungan dalam teknik kelautan.

Ia menuturkan, program itu mengatasi kesenjangan kompetensi yang teridentifikasi antara kebutuhan industri dan kemampuan SDM yang ada, sekaligus memfasilitasi peluang transfer teknologi dan membangun kerangka kerja untuk kerja sama bilateral jangka panjang dalam pengembangan teknologi kelautan.

Tujuannya, kata dia lagi, untuk mengembangkan ekosistem komprehensif tenaga profesional teknologi kelautan Indonesia yang kompeten, serta mampu menerapkan teknologi berkelanjutan untuk mendukung agenda pembangunan ekonomi biru nasional.

“Kami bersatu dengan satu tujuan bersama untuk belajar, terhubung, dan menciptakan ide-ide baru untuk masa depan sektor kelautan dan perikanan kita. Laut adalah ruang kelas kita, dan pengetahuan adalah wadah kita yang paling ampuh,” ujar Nyoman.

Director of Indonesia-Tiongkok Climate and Ocean Center sekaligus Director of the Establishment PMO at the FIO Bailin Cong menyampaikan ekosistem laut adalah urat nadi planet bumi, dan ekonomi biru telah muncul sebagai pendorong utama pembangunan berkelanjutan di kedua negara.

Menurutnya, Tiongkok dan Indonesia sebagai dua negara maritim besar dengan garis pantai yang luas dan sumber daya laut yang melimpah, memiliki visi dan tanggung jawab yang sama dalam mengeksplorasi potensi laut, melindungi keseimbangan ekologisnya, dan mendorong kerja sama yang saling menguntungkan di bidang teknologi dan industri kelautan.

"Pelatihan ini bukan sekadar untuk diseminasi pengetahuan melainkan jembatan pertukaran, katalis kolaborasi, dan lahan persemaian bagi kemitraan di masa depan," kata Bailin.

Pelatihan itu dilakukan di Politeknik Ahli Usaha Perikanan (AUP) Kampus Jakarta selama empat hari, yakni 17-20 November. Kampus itu merupakan salah satu satuan pendidikan tinggi KKP di bawah BPPSDMKP.

Selama empat hari, para peserta mengeksplorasi topik-topik penting seperti kebijakan ekonomi biru, restorasi ekologi laut, akuakultur berkelanjutan, dan penilaian dampak lingkungan.

Selain di Politeknik AUP, rangkaian kegiatan pelatihan ini juga dilakukan di Kantor Pusat KKP serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Serpong Tangerang Selatan.

  • teknologi kelautan

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.