• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Benarkah Atap Asbes Bisa P...

Benarkah Atap Asbes Bisa Picu Kanker Paru? Ini Penjelasan Berdasarkan Bukti Ilmiah

Selasa, 04 Agu 2026, 19:20 WIB

JAKARTA — Penggunaan material yang mengandung asbes sebagai bagian dari bangunan kembali menjadi perhatian masyarakat, terutama terkait kekhawatiran mengenai risiko kanker paru. Pada momentum Hari Kanker Paru Sedunia 2026, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mengingatkan masyarakat agar memahami risiko asbes berdasarkan bukti ilmiah dan tidak mengambil kesimpulan hanya dari keberadaan material tersebut.

YKI menilai literasi mengenai faktor risiko kanker paru penting diperkuat karena kanker paru masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker. Ketua Umum YKI Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP, mengatakan peringatan Hari Kanker Paru Sedunia dapat menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan, deteksi dini, dan faktor risiko kanker.

Ket. Foto: Ketua Umum YKI Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP. Ia menjelaskan risiko kanker paru akibat paparan serat asbes, terutama dari material yang rusak, dipotong, dibor, atau dibongkar. — Sumber: YKI

“Kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan, deteksi dini, serta pentingnya memperoleh informasi kesehatan yang didasarkan pada bukti ilmiah,” ujar Prof. Aru, melalui siaran pers pada hari Selasa (4/8).

Menurut data GLOBOCAN 2022 yang dikutip YKI, Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dan 242.988 kematian akibat kanker setiap tahun. Angka tersebut setara dengan sekitar 1.120 kasus baru dan 665 kematian akibat kanker setiap hari.

Dalam kasus kanker paru, merokok masih menjadi faktor risiko utama. Selain tembakau, sejumlah paparan lingkungan dan pekerjaan juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko, termasuk asbes, radon, polusi udara, dan berbagai zat karsinogen di tempat kerja. IARC menyebut merokok sebagai faktor risiko utama kanker paru, sementara asbes termasuk salah satu penyebab yang telah terbukti.

Atap Asbes dan Risiko Kanker Paru

Lantas, apakah atap asbes menyebabkan kanker paru? YKI menjelaskan bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks paparan. Yang menjadi persoalan kesehatan bukan sekadar keberadaan material yang mengandung asbes, melainkan kemungkinan serat asbes terlepas ke udara kemudian terhirup.

Asbes merupakan kelompok mineral berbentuk serat mikroskopis yang memiliki sifat tahan panas dan korosi. Material ini pernah digunakan secara luas dalam berbagai produk bangunan dan industri.

Ketika material yang mengandung asbes terganggu atau rusak, serat berukuran sangat kecil dapat terlepas ke udara. Jika terhirup, serat tersebut dapat masuk dan menetap di jaringan paru dalam waktu lama. Menurut National Cancer Institute (NCI), serat asbes yang terakumulasi dapat menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada paru serta meningkatkan risiko sejumlah penyakit serius, termasuk kanker paru dan mesothelioma.

Karena itu, atap atau material bangunan yang masih utuh tidak dapat disamakan begitu saja dengan kondisi ketika material tersebut dipotong, dibor, dipecahkan, digerinda, rusak, atau dibongkar.

Namun, hal tersebut juga bukan berarti material asbes dapat dianggap sepenuhnya aman. WHO menyatakan seluruh bentuk asbes bersifat karsinogenik bagi manusia dan paparan terhadap seratnya dapat menyebabkan kanker paru, mesothelioma, kanker laring dan ovarium, serta asbestosis.

Prof. Aru menjelaskan, seluruh jenis asbes telah diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia atau Group 1 Carcinogen oleh International Agency for Research on Cancer (IARC).

“Yang penting dipahami masyarakat adalah bahwa risiko kesehatan berkaitan dengan paparan serat asbestos yang terlepas ke udara dan terhirup, terutama ketika material yang mengandung asbestos mengalami kerusakan, dipotong, dibor, atau dibongkar. Karena itu, komunikasi kesehatan harus selalu disampaikan secara proporsional dan berbasis bukti ilmiah agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu,” jelas Prof. Aru.

Mengapa Serat Asbes Berbahaya?

Serat asbes memiliki karakteristik yang membuatnya dapat bertahan lama di dalam tubuh setelah terhirup. NCI menjelaskan bahwa serat tersebut dapat terperangkap di paru dan bertahan selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut dapat memicu peradangan dan jaringan parut yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit paru.

Paparan asbes juga memiliki masa laten yang panjang. Artinya, penyakit yang berkaitan dengan paparan asbes tidak selalu muncul segera setelah seseorang terpapar. NCI mencatat bahwa penyakit akibat asbes dapat baru menunjukkan tanda setelah puluhan tahun.

Risiko juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain tingkat dan durasi paparan, karakteristik serat, sumber paparan, serta faktor individu lainnya.

Yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kombinasi paparan asbes dan kebiasaan merokok. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa orang yang merokok sekaligus terpapar asbes memiliki risiko kanker paru yang jauh lebih tinggi dibandingkan jika hanya menghadapi salah satu faktor tersebut.

Jangan Membongkar Atap Asbes Sembarangan

YKI mengimbau masyarakat yang masih memiliki material mengandung asbes agar tidak melakukan pembongkaran, pemotongan, pengeboran, atau penghancuran secara sembarangan.

Kegiatan tersebut dapat meningkatkan kemungkinan serat asbes terlepas dan terhirup. WHO juga menempatkan pekerjaan konstruksi, pemeliharaan, dan pembongkaran bangunan yang mengandung asbes sebagai aktivitas yang berpotensi menyebabkan paparan.

Jika material perlu diperbaiki atau diganti, proses penanganan dan pembuangan sebaiknya dilakukan dengan prosedur keselamatan yang sesuai untuk meminimalkan paparan terhadap penghuni rumah maupun pekerja.

Pekerja yang menangani material yang diduga mengandung asbes juga perlu menerapkan langkah perlindungan yang sesuai dengan standar keselamatan kerja.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu panik hanya karena tinggal atau beraktivitas di bangunan yang memiliki material mengandung asbes. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan, terutama ketika material tersebut rusak atau akan menjalani proses perbaikan dan pembongkaran.

Berhenti Merokok Tetap Jadi Langkah Utama

Di luar persoalan asbes, YKI menekankan pentingnya masyarakat memusatkan perhatian pada faktor risiko kanker paru yang dapat dicegah.

Prof. Aru mengatakan berhenti merokok, menghindari asap rokok, mengurangi paparan asbes dan zat karsinogen di lingkungan kerja, serta menjaga kualitas udara merupakan bagian penting dari upaya pencegahan.

“Kanker paru merupakan penyakit yang dalam banyak kasus dapat dicegah. Upaya terpenting tetap adalah berhenti merokok, menghindari paparan asap rokok, mengurangi paparan asbestos dan zat-zat karsinogen di lingkungan kerja, menjaga kualitas udara, serta melakukan deteksi dini pada kelompok berisiko sesuai rekomendasi medis,” ujarnya.

IARC menyebut tembakau sebagai penyebab sekitar 85 persen kasus kanker paru secara global, sementara faktor risiko lainnya mencakup asap rokok orang lain, polusi udara, emisi mesin diesel, asap pengelasan, dan paparan asbes.

Karena itu, pembahasan mengenai atap asbes sebaiknya tidak berdiri sendiri. Risiko kanker paru merupakan persoalan multifaktor, dengan merokok tetap menjadi faktor risiko utama.

Melalui edukasi berbasis bukti ilmiah, YKI berharap masyarakat dapat membedakan antara keberadaan material yang mengandung asbes dan paparan serat asbes yang dapat membahayakan kesehatan.

YKI juga menegaskan komitmennya untuk terus memberikan informasi kesehatan berbasis bukti ilmiah serta memperkuat literasi masyarakat mengenai pencegahan kanker melalui kolaborasi dengan pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, media, dunia usaha, dan berbagai unsur masyarakat.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.