Mengerikan! Ternyata Begini Cara Eks Napi Terorisme ISIS Rekrut Anak untuk Masuk Jaringan

Selasa, 18 Nov 2025, 17:19 WIB

JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap penangkapan lima tersangka perekrut anak ke jaringan terorisme, satu di antaranya terafiliasi dengan ISIS dan pernah menjalani hukuman. 

Penangkapan “pemain lama” tersebut membuka jalan bagi pengungkapan empat pelaku lain yang memanfaatkan media sosial dan game online untuk menyebarkan propaganda serta mengarahkan anak ke grup tertutup tempat indoktrinasi berlangsung.

Ket. Foto: Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana (tengah) berbicara dalam konferensi pers "Penanganan Anak Rekrutmen Secara Online Terhadap Anak-anak Oleh Kelompok Terorisme" di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (18/11). — Sumber: ANTARA/Nadia Putri Rahmani

Sebagai informasi, lima tersangka itu adalah FW alias YT, LM (23), PP alias BBMS (37), MSPO (18), dan JJS alias BS (19).

“Untuk pemain lama yang ditangkap pertama kali oleh Densus 88, diketahui jaringannya berasal dari jaringan ISIS atau Ansharut Daulah,” kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana di Jakarta, Selasa.

Akan tetapi, Mayndra tidak mengungkapkan inisial tersangka yang terafiliasi dengan ISIS.

Ia hanya menyebut bahwa tersangka yang terafiliasi ISIS itu merupakan pemain lama dan sudah pernah menjalani masa hukuman.

“Dia sudah menjalani proses hukum. Kemudian, setelah lepas, dia coba lagi merekrut beberapa anak,” ujarnya.

Dari penangkapan satu pemain lama tersebut, kata dia, Densus 88 berhasil mengembangkan kasus hingga akhirnya menangkap empat tersangka lainnya.

Lebih lanjut, Mayndra mengatakan bahwa modus para tersangka adalah menyebarkan propaganda melalui ruang digital, di antaranya media sosial dan game online (gim daring).

Pada platform media sosial yang umum, tersangka akan menyebarkan visi-visi fantasi yang membuat anak tertarik.

Sementara itu, pada game online, anak akan diajak berkomunikasi terlebih dahulu melalui fitur obrolan di dalam game. Ketika terbentuk komunikasi, anak akan dimasukkan ke dalam grup di aplikasi khusus yang terenkripsi.

“Dari awal memang tidak langsung menuju kepada ideologi terorisme, tetapi anak-anak dibikin tertarik dahulu, kemudian mengikuti grup, kemudian diarahkan kepada grup yang lebih privat, grup yang lebih kecil yang dikelola oleh admin ini. Di situlah proses-proses indoktrinasi berlangsung,” katanya.

Mayndra juga menegaskan, Densus 88 tidak hanya melakukan pencegahan yang bersifat ideologis, tetapi juga pencegahan secara fisik, salah satunya upaya pelaksanaan aksi terorisme pada fasilitas vital nasional.

Densus 88, kata dia, sempat mengamankan pelaku yang berkeinginan untuk melakukan aksi di Gedung DPR RI.

“Artinya, pencegahan atau preventive strike yang dilakukan oleh Densus dalam hal untuk melindungi keamanan objek vital negara dan keselamatan umum, termasuk juga keselamatan para pelaku dan anak-anak yang direkrut ini,” katanya.

  • remaja
  • densus 88
  • napi terorisme
  • isis

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.