• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Pelajar Banten Minta Pemer...

Pelajar Banten Minta Pemerintah Bijak dalam Rencana Pembatasan Game Online

Rabu, 12 Nov 2025, 19:35 WIB

JAKARTA - Rencana pemerintah untuk membatasi akses game online menuai tanggapan dari kalangan pelajar. Salah satu siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Provinsi Banten, Muhammad Raffi Ramadan, meminta kebijakan tersebut dilakukan secara bijak dan tidak diberlakukan secara menyeluruh. Ia berpendapat, tidak semua permainan digital berdampak negatif, karena sebagian pelajar justru mampu memperoleh manfaat positif, termasuk peluang ekonomi dari dunia e-sport.

“Beberapa teman saya bisa menghasilkan uang dari bermain game secara profesional,” ujarnya, dilansir dari RRI, Rabu (6/11).

Ket. Foto: — Sumber: RRI

Raffi mengungkapkan dirinya kerap bermain Mobile Legends dan Battle Royale selama dua hingga tiga jam setiap hari. Menurutnya, durasi tersebut masih tergolong wajar selama pelajar mampu mengatur waktu belajar dan istirahat. “Saya tetap bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah karena tahu cara membagi waktu dengan baik,” katanya.

Ia tidak menampik bahwa bermain game dapat menimbulkan dampak negatif, seperti kecanduan dan menurunnya interaksi sosial di lingkungan nyata. Namun, Raffi menilai risiko itu bisa diminimalisasi apabila pemain memiliki disiplin dan kesadaran diri untuk membatasi waktu bermain. “Yang berlebihan pasti tidak baik, tapi bermain untuk hiburan dan melatih refleks tetap dibutuhkan,” ucapnya menambahkan.

Lebih lanjut, Raffi menilai pemerintah seharusnya lebih fokus pada penyeleksian jenis permainan yang berpotensi menimbulkan dampak buruk, bukan pada pembatasan jam bermain. Ia menegaskan bahwa penghapusan game yang mengandung unsur kekerasan ekstrem atau pornografi jauh lebih efektif dibanding pembatasan menyeluruh. “Game yang mengandung kekerasan ekstrem atau pornografi sebaiknya dihapus dari peredaran,” ujarnya.

Selain itu, ia mendorong pemerintah agar mewajibkan setiap penerbit game mencantumkan batasan usia pemain secara tegas. Aturan tersebut, menurut Raffi, dapat membantu anak-anak bermain dengan lebih bijak sesuai usia dan tingkat kematangan mereka.

Pernyataan Raffi mencerminkan suara sebagian pelajar yang menilai dunia game bukan semata hiburan, melainkan juga ruang kreativitas dan peluang ekonomi baru. Oleh sebab itu, kebijakan pembatasan diharapkan mempertimbangkan sisi edukatif dan sosial agar tidak mematikan potensi positif dari industri game nasional.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Reza Aditya Firdaus

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.