Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menilik Potensi Wisata Pengamatan Migrasi Burung

📅 Sabtu, 08 Nov 2025, 14:15 WIB | Oleh:

Pada 18-19 Oktober 2025, sekelompok anak muda yang digerakkan Yayasan Paruh Bengkok Indonesia berkumpul di Bukit Nipah, Lombok Utara. Mereka menengadahkan kepala ke langit, mengamati pergerakan setiap burung yang terbang di atas laut biru.

Meski jarak burung sejauh ratusan meter dari posisi mereka, anak-anak muda itu piawai mengidentifikasi spesies burung apa yang terbang.

Triadede, salah satu peserta pengamatan burung migran menuturkan kegiatan itu dapat menjadi sarana edukasi dan rekreasi. Ia merasakan keseruan dalam mengamati burung yang sebelumnya tak pernah dilakukan seumur hidupnya.

Pria asal Jonggat, Lombok Tengah tersebut mengaku dapat lebih mengetahui jenis burung yang sedang diamati meski tidak mengetahui secara spesifik nama ilmiahnya.

Yayasan Paruh Bengkok Indonesia menyatakan wisata minat khusus pengamatan migrasi burung belum populer. Walau Indonesia dilewati jutaan burung migran setiap tahun, namun tidak ada daerah yang menjadikan migrasi burung sebagai objek wisata.

Penasihat Ilmiah Paruh Bengkok Indonesia Saleh Amin mengatakan ada beberapa lokasi pengamatan burung migran di Indonesia, seperti kawasan Puncak Bogor di Jawa Barat dan Gunung Seger di Bali. Potensi itu belum dilirik secara serius baik oleh pemerintah maupun pihak swasta.

Saleh menilai pemerintah dengan kekuatan yang sangat besar seharusnya bisa mendukung aktivitas pengamatan migrasi burung melalui regulasi. Pemerintah dapat berfokus pada kebijakan konservasi yang mendukung habitat di sepanjang jalur migrasi burung agar selalu lestari.

Bentuk regulasi yang dapat dilakukan adalah mempertegas dan mencegah perburuan burung migran dengan senapan angin, deforestasi, dan kebijakan lain yang turut menjaga habitat. Perubahan lingkungan yang terjadi pada kawasan persinggahan burung mingguan dapat berpotensi mengubah jalur migrasi.

Wisata berkelanjutan

Tren pariwisata global sedang beralih dari wisata massal ke wisata berkelanjutan yang tersegmentasi, seperti pengamatan burung atau birdwatching yang memiliki potensi menjanjikan untuk mendongkrak ekonomi lokal.

Aktivitas utama wisata minat khusus ini hanya berupa mengamati burung pada habitat alami tanpa merusak hutan, mangrove, rawa, maupun pantai yang menjadi tempat persinggahan burung migran. Dampak ekologis dan jejak karbon yang ditinggalkan tentu jauh lebih sedikit ketimbang wisata massal.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Zefanya Andryan Girsang mengatakan walau peminat wisata pengamatan burung relatif sedikit, namun wisatawan cenderung tinggal lebih lama dan rela merogoh biaya besar demi melihat keindahan berbagai spesies burung migran.

Kegiatan mengamati burung migran selalu mengedepankan prinsip menghormati lingkungan dan menjaga nilai-nilai budaya masyarakat lokal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.