Rupiah Hari Ini Melemah, Terseret Drama Internal The Fed

Selasa, 04 Nov 2025, 18:25 WIB

JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah seiring munculnya perbedaan pandangan di internal bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) terkait arah kebijakan suku bunga.

Ketidakselarasan sikap pejabat The Fed menciptakan ketidakpastian di pasar global, mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petugas bank menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS. — Sumber: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja

Pelaku pasar cenderung bersikap defensif sambil menanti sinyal yang lebih jelas mengenai waktu dan besaran pemangkasan suku bunga berikutnya.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Selasa (4/11) sore, melemah sebesar 32 poin atau 0,19 persen menjadi Rp16.708 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.676 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada hari ini (4/11), juga melemah di level Rp16.724 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.664 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi perpecahan pendapat di antara para pejabat Federal Reserve (The Fed) tentang seberapa cepat Bank Sentral Amerika Serikat (AS) tersebut melanjutkan pemotongan suku bunga.

“Beberapa pembuat kebijakan menekankan perlunya kewaspadaan terhadap inflasi, sementara yang lain menunjukkan tanda-tanda perlambatan momentum pasar tenaga kerja. Perpecahan pendapat ini memperkuat keraguan tentang seberapa cepat The Fed akan melanjutkan pemotongan suku bunga, yang akan menjaga dolar tetap kuat,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Pekan lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell telah mengisyaratkan bahwa bank sentral belum berkomitmen untuk pelonggaran lebih lanjut, dengan mengatakan bahwa langkah potensi pemangkasan suku bunga di bulan Desember 2025 bukan sesuatu yang pasti.

Sejak itu, pasar mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga. Beberapa pejabat The Fed kemudian menambah ketidakpastian, karena menyuarakan pandangan yang berbeda tentang perekonomian AS.

“Penutupan Pemerintah Amerika Serikat (AS) juga masih berlangsung (sehingga berkontribusi terhadap pelemahan rupiah) dan memasuki hari ke-33 tanpa ada tanda-tanda perbaikan, dan diperkirakan akan melampaui rekor sebelumnya selama tiga puluh lima hari jika kebuntuan ini berlanjut,” ujar Ibrahim.

Penutupan pemerintahan Amerika Serikat (U.S. government shutdown) terjadi ketika Kongres gagal menyetujui atau mengesahkan anggaran belanja federal sebelum batas waktu yang ditetapkan.

Akibatnya, sebagian lembaga dan layanan publik pemerintah federal harus menghentikan operasionalnya karena tidak memiliki dana operasional yang sah secara hukum.

Penutupan pemerintahan AS mencerminkan kebuntuan politik antara Kongres dan Gedung Putih terkait prioritas belanja negara.

Kondisi ini biasanya menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan global, menekan sentimen risiko, dan mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

  • rupiah hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.