Ekspor Mulai Kehabisan Tenaga, Ekonom Wanti-wanti Surplus Perdagangan September Menyempit
📅 Jumat, 31 Okt 2025, 20:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Aditya Pradana Putra
JAKARTA – Kinerja ekspor Indonesia tercatat melambat seiring turunnya permintaan global dan penyesuaian harga komoditas utama.
Di sisi lain, aktivitas impor mulai menunjukkan pemulihan, didorong meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal untuk industri dalam negeri.
Kondisi ini menandakan pergeseran dinamika perdagangan luar negeri, di mana surplus neraca dagang bakal ikut terdampak.
Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memproyeksikan surplus Neraca Perdagangan Indonesia pada September 2025 akan menyempit, didorong oleh kinerja ekspor yang melambat dan pemulihan aktivitas impor.
Surplus neraca perdagangan diperkirakan mencapai 3,19 miliar dolar AS, turun dari posisi Agustus 2025 yang sebesar 5,49 miliar dolar AS. Menurut dia, hal ini mencerminkan pelemahan kinerja ekspor bulanan yang melemah di tengah meningkatnya aktivitas impor.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Meskipun demikian, hal ini akan menandai surplus perdagangan Indonesia selama 65 bulan berturut-turut,” kata Faisal dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (31/10).
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data neraca perdagangan September 2025 pada Senin (3/1).
Faisal memperkirakan ekspor Indonesia akan tumbuh 7,72 persen secara tahunan (yoy) pada September 2025, dari sebelumnya yang tumbuh 5,78 persen pada Agustus 2025.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ekspor dari industri hilir, khususnya besi dan baja, akan tetap menjadi pendorong utama kinerja ekspor. Kenaikan harga CPO juga diperkirakan memberikan dukungan tambahan bagi kinerja ekspor.
Sementara itu, impor diproyeksikan meningkat 9,28 persen yoy pada September 2025, setelah bulan sebelumnya turun 6,56 persen yoy.
Peningkatan terutama disebabkan oleh penguatan kinerja manufaktur domestik, sebagaimana tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia yang kembali berada di zona ekspansi atau di atas 50 selama Agustus-September 2025.
Adapun defisit transaksi berjalan diperkirakan melebar pada paruh kedua 2025, meski dampaknya diperkirakan tetap terkendali, seiring dengan perang dagang yang masih berlangsung dan agenda pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi domestik.
Untuk sepanjang tahun, Faisal memproyeksikan defisit transaksi berjalan melebar secara moderat menjadi 0,81 persen dari PDB, dari sebelumnya 0,62 persen pada 2024.
Meskipun melebar, defisit transaksi berjalan dinilai masih dalam kisaran yang terkendali dan memungkinkan Bank Indonesia (BI) melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!