Kadin: Ancaman Pencurian Data di Platform Kerja Digital Kian Marak
📅 Rabu, 29 Okt 2025, 17:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyoroti maraknya terjadi fenomena kejahatan siber pencurian data dengan modus menyematkan malware di tautan unduhan maupun platform pencari kerja.
Wakil Ketua Komite Tetap Keamanan Siber dan Perlindungan Infrastruktur Kritis Kadin Indonesia Dea Saka Kurnia Putra menjelaskan cara kerja peretas kini fokus kepada pencurian langsung data sensitif seperti username, password, atau data keuangan.
"Jadi peningkatannya sangat drastis sekali, 27,5 juta (korban), di mana ternyata 54 persen korban dari ransomware itu berasal dari Info Stealer (pencuri data), bukan dari peretasan sistemnya," kata Putra dalam sebuah sesi diskusi dalam ajang National Cybersecurity Connect 2025 di Jakarta Selatan, Rabu (29/10).
Putra menjelaskan metode populer yang digunakan pelaku untuk mencuri data korbannya melalui tautan unduhan palsu.
Ketika korban membuka tautan dan mengunduh file di dalamnya, malware yang disusupkan pelaku langsung mencuri data penting miliknya. Menurut Putra, risiko ini sering terjadi pada tautan unduhan aplikasi atau gim bajakan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jadi dia (pelaku) melampirkan ada link yang seolah-olah sangat asli, tapi ketika kita klik dan kita ekstrak (filenya) ternyata memberikan malware-nya running in background (diam-diam berjalan di perangkat). Jadi seolah-olah kita cuma download aplikasi biasa, tapi ternyata kita download Info Stealer," kata dia.
Selain pada tautan unduhan, modus yang populer lainnya adalah menyusupkan malware pencuri data pada lamaran kerja di platform pencari kerja.
Malware tersebut bekerja ketika korban mengisi formulir lamaran kerja. Tanpa disadari oleh korban, malware tersebut mengambil informasi penting seperti data keuangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ketika dibuka itu merupakan Info Stealer. Nanti hasilnya adalah pdf seperti mengisi lamaran kerja, tapi ternyata running in background, Info Stealer itu sudah bekerja," ujar Putra.
Putra menjelaskan kelompok kejahatan siber yang menjalankan malware pencuri data saat ini bertumbuh dengan cepat. Pada tahun 2022, rata-rata muncul 15 kelompok pencuri data baru setiap bulannya.
"Jadi ada 15 grup baru setiap bulannya berarti betapa menguntungkannya industri ini (pencurian data)," ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!