Jakarta Darurat TBC, Ditemukan 46.000 Kasus

Jumat, 24 Okt 2025, 03:50 WIB

JAKARTA – Penyakit tuberculosis (TBC) termasuk berbahaya karena cepat dan mudah menular. Jakarta tengah dalam kondisi darurat TBC karena sepanjang tahun ini telah ditemukan lebih dari 46.000 kasus. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta sendiri berharap dapatmenemukan 70.000 kasus tahun ini.

“Pemprov telah melakukan skrining 68.000. Dari jumlah itu, diperiksa laboratorium dan ditemukan 46.000 lebih kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jakarta, Ani Ruspitawati, di kawasan Balekambang, Jakarta Timur, Kamis (23/10). Dia menyampaikan sebagian besar kasus TB ditemukan melalui rumah sakit. Saat ini Pemprov telah kerja sama dengan 118 rumah sakit.

Ket. Foto: Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno (kanan) didampingi Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Rebo Drg. Iwan Kurniawan (kiri) meninjau sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di Unit Matahari Terpadu, layanan Rawat Inap TBC Resisten Obat (RO) saat peresmiannya di RSUD Pasar Rebo, Jakarta, Kamis (23/10). — Sumber: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Dari 46.000 pasien TBC baru tersebut, sebanyak 90 persen atau 41.600 orang sudah memulai pengobatan. Sisanya masih terus diupayakan agar mau berobat sampai sembuh. Saat ini, pengobatan dapat dilakukan di 832 fasilitas kesehatan. Ini terdiri dari 330 Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM/Puskesma)s, 118 rumah sakit swasta, 53 rumah sakit pemerintah, 265 klinik swasta, 46 klinik pemerintah, dan 20 tempat mandiri dokter.

Ani menuturkan pengobatan TBC membutuhkan waktu yang relatif lama, enam bulan tanpa putus agar pasien dapat pulih dan tidak menjadi resistan atau kebal obat (Tuberkulosis Resistan Obat/TBC RO). “Karena begitu putus obat, menjadi resisten terhadap obatnya. Kalau resisten, susah. Pengobatannya harus beda. Kalau resisten obat biasanya pengobatannya mesti ke rumah sakit,” terang Ani.

Seperti diketahui, Pemprov berupaya menangani kasus TB RO. Salah satunya dengan menyediakan rumah sakit dan balai kesehatan pelaksanaan layanan tuberkulosis resistan obat. Penyelenggara layanan tersebut adalah rumah sakit dan balai kesehatan yang mampu menyediakan layanan manajemen terpadu pengendalian TB RO.

Kampung Siaga

Sementara itu, Pemprov Jakarta kini memiliki 563 Kampung Siaga TBC yang tersebar di 267 kelurahan. Kampung Siaga TBC dibentuk sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit yang diakibatkan infeksi mycobacterium tuberculosis tersebut.

Menurut Ani, kampung siaga mulai uji coba tahun lalu. Pertama kali piloting tiap kelurahan satu. Jadi ada 274. Sekarang sudah ada modeling-nya, dikembangkan lagi di 563 RW. Ani Ruspitawatimenjelaskan, menargetkan sebanyak 1.060 Kampung Siaga TBC terbentuk pada tahun depan dan 2.741 Kampung Siaga tahun 2029. Ini sebagai bagian dari upaya eliminasi TBC pada tahun 2030.

Kata “Siaga” bukan menandakan kedaruratan kasus, melainkan kewaspadaan warga untuk mencegah lingkungannya tertular TBC. Ani menyebutkan, upaya menemukan kasus TBC menjadi tantangan tersendiri, begitu juga dengan masa pengobatan yang lama. Maka, Pemprov Jakarta menggandeng para kader untuk membantu menemukan kasus serta memastikan pasien menjalani pengobatan.

“Menemukan saja susah. Nanti pas mulai berobat juga butuh usaha. Maka, ada ibu-ibu kader yang terus memberikan semangat, karena begitu berobat, dia harus menyelesaikan pengobatannya selama enam bulan,” ungkap Ani.  Hingga Oktober, tercatat 46.000 kasus TBC baru dari sekitar 68.000 orang yang menjalani skrining.

Sementara itu, Kemendagri menekankan penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Indonesia membutuhkan kolaborasi yang solid antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. wid/Ant/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.