- Home
-
- Luar Negeri
-
- Rudal Balistik Hipersonik ...
Rudal Balistik Hipersonik Iran: Pejabat Pentagon Peringatkan Pasukan AS akan Kesulitan Menghadapi Kheibar Shekan
Senin, 03 Agu 2026, 00:06 WIBWASHINGTON DC - Kekhawatiran di Pentagon terhadap kemampuan rudal Iran dilaporkan terus meningkat. Menurut laporan Military Watch Magazine yang terbit pada 2 Agustus 2026, rudal balistik jarak menengah Kheibar Shekan kini dianggap sebagai salah satu ancaman paling serius bagi sistem pertahanan udara Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.
Para pejabat militer AS disebut tidak hanya mengkhawatirkan kemampuan rudalnya, tetapi juga perubahan taktik yang diterapkan Iran. Jika sebelumnya rudal balistik cenderung mengikuti lintasan yang relatif mudah diprediksi, kini Teheran dilaporkan mengombinasikan berbagai jalur penerbangan, kecepatan berbeda, manuver pada fase akhir, hingga serangan yang dipadukan dengan drone. Pola ini membuat sistem pertahanan seperti THAAD, Patriot, maupun AEGIS harus bekerja lebih keras dan menghabiskan lebih banyak rudal pencegat untuk menghadapi satu gelombang serangan.
Salah satu aspek yang paling menyita perhatian adalah kemampuan manuver bagian hulu ledak Kheibar Shekan. Berbeda dengan rudal balistik konvensional, rudal ini mampu mengubah arah ketika memasuki fase akhir penerbangan. Dengan kecepatan hipersonik saat kembali memasuki atmosfer, waktu yang dimiliki sistem pertahanan untuk mendeteksi, menghitung lintasan, dan melakukan pencegatan menjadi sangat singkat.
Military Watch menyebut desain Kheibar Shekan diduga berkembang dari teknologi rudal Hwasong-10 Korea Utara yang diperoleh Iran pada awal 2000-an. Sejak saat itu, transfer teknologi diyakini mempercepat modernisasi industri rudal Iran hingga mampu menghasilkan sistem yang jauh lebih canggih.
Dikembangkan untuk Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Kheibar Shekan merupakan rudal balistik berbahan bakar padat dengan jangkauan sekitar 1.450 kilometer. Penggunaan bahan bakar padat memungkinkan proses persiapan peluncuran berlangsung jauh lebih cepat dibanding rudal berbahan bakar cair, sehingga memperkecil peluang dihancurkan sebelum diluncurkan. Rudal ini juga dapat diangkut menggunakan kendaraan peluncur bergerak sehingga lebih sulit dilacak dan diserang.
Di sisi lain, tantangan bagi Amerika Serikat tidak hanya datang dari kemampuan teknis rudal tersebut. Laporan itu juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap persediaan rudal pencegat milik AS. Pertahanan regional Amerika bergantung pada sistem THAAD, Patriot, serta kapal perusak AEGIS yang menggunakan rudal SM-3 dan SM-6. Operasi yang berlangsung terus-menerus disebut telah menguras stok pencegat, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan mempertahankan operasi jika konflik berkepanjangan.
Upaya untuk menghancurkan fasilitas rudal Iran juga dinilai belum memberikan hasil yang menentukan. Banyak lokasi peluncuran berada di kompleks bawah tanah yang diperkuat, sementara Iran disebut mampu memulihkan infrastruktur rudalnya dengan cepat setelah diserang. Kondisi ini memungkinkan Teheran tetap mempertahankan kemampuan melancarkan serangan balasan.
Faktor lain yang dinilai menguntungkan Iran adalah biaya produksi rudalnya yang jauh lebih murah dibanding harga rudal pencegat yang digunakan lawan. Setiap rudal Kheibar Shekan diperkirakan hanya memerlukan sebagian kecil dari biaya satu rudal pencegat THAAD atau sistem pertahanan lainnya. Akibatnya, bahkan serangan yang sebagian berhasil digagalkan tetap dapat memaksa lawan mengeluarkan biaya sangat besar untuk mempertahankan wilayahnya.
Military Watch juga menilai strategi tersebut akan semakin efektif jika dipadukan dengan rudal yang lebih canggih, seperti Fattah-2, yang menggunakan kendaraan luncur hipersonik dan diklaim jauh lebih sulit dicegat.
Laporan itu turut mengutip pemberitaan Haaretz pada Maret lalu yang menyebut sekitar delapan dari sepuluh rudal Iran yang ditembakkan ke Israel berhasil mencapai targetnya. Media tersebut juga melaporkan efektivitas pertahanan udara menurun seiring meningkatnya intensitas serangan. Selain itu, sejumlah radar strategis milik Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk radar AN/TPY-2 di Yordania dan Uni Emirat Arab serta radar AN/FPS-132 di Qatar, dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan Iran. Jika benar, kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan deteksi dini jaringan pertahanan udara AS dan Israel sehingga semakin memperberat upaya menghadapi gelombang serangan rudal berikutnya.
Meski demikian, sejumlah klaim mengenai efektivitas serangan Iran, tingkat keberhasilan rudal, maupun kerusakan sistem radar masih berasal dari laporan media dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.Sumber:
- Perang Iran
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Intelejen Rencana Serangan ke Gunung Pickaxe Iran Bocor ke Publik, Trump Kesal pada Netanyahu - Picu Ketegangan Baru AS-Israel
-
Mojtaba Bersumpah Iran akan Terus Mendukung Hizbullah
-
Khawatir Hujan Rudal Iran, AS Pindahkan F-35 dari Pangkalan Teluk ke Israel
-
AS akan Serang Habis-habisan Semua Lokasi Nuklir Iran, Target Berikutnya Kompleks Bawah Tanah Gunung Pickaxe
-
Iran Konfirmasi Pilot Su-24 Tewas Usai Serang Pangkalan AS di Al Udeid Qatar, Misteri Terungkap Lewat Tes DNA
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.