- Home
-
- Megapolitan
-
- 50 Persen Kawasan Penyangg...
50 Persen Kawasan Penyangga Jabodetabek Ada di Bogor, Lingkungan Jadi Sorotan
Senin, 15 Jun 2026, 03:01 WIBKabupaten Bogor - Pemerintah Kabupaten Bogor menjadikan kawasan Hulu Ciliwung sebagai prioritas dalam gerakan pelestarian lingkungan karena memiliki peran strategis sebagai daerah hulu yang menopang keberlanjutan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika mengatakan sekitar 50 persen kawasan penyangga Jabodetabek berada di wilayah Kabupaten Bogor. Karena itu, kondisi lingkungan di daerah tersebut sangat menentukan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat di wilayah hilir.
"Secara geografis kita berada di area hulu dan menengah. Sekitar 50 persen Jabodetabek ada di Kabupaten Bogor dan posisinya berada di hulu," kata Ajat saat kegiatan penanaman bambu dan sarasehan yang dihadiri Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (14/6).
Menurut Ajat, kerusakan lingkungan di Kabupaten Bogor akan berdampak langsung terhadap wilayah hilir, sehingga upaya pelestarian lingkungan di kawasan tersebut memiliki nilai strategis, tidak hanya bagi masyarakat Bogor tetapi juga bagi kawasan Jabodetabek secara keseluruhan.
"Ketika kita abai terhadap kawasan Kabupaten Bogor, tentunya dampaknya terhadap area hilir," ujarnya.
Ia menjelaskan Kabupaten Bogor memiliki luas wilayah hampir lima kali lebih besar dibandingkan DKI Jakarta dan menjadi daerah penyangga bagi jutaan penduduk di wilayah metropolitan. Oleh karena itu, Pemkab Bogor terus mendorong kolaborasi dengan pemerintah pusat, komunitas lingkungan, dan masyarakat dalam menjaga kawasan hulu melalui berbagai program konservasi dan penghijauan.
"Kami sangat senang apabila secara kolaboratif dan terintegrasi kita menata lingkungan Kabupaten Bogor, karena dampaknya mempunyai nilai secara nasional, khususnya untuk wilayah Jabodetabek," katanya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai aksi konservasi yang digelar di kawasan Telaga Saat, Hulu Ciliwung, bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan rangkaian Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544.
Ajat mengatakan Kabupaten Bogor memiliki peran strategis sebagai wilayah hulu dan hilir dalam satu kesatuan ekoregion sehingga pelestarian lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh.
"Selama ini kita sudah melakukan langkah-langkah untuk menjaga wilayah hilir. Ketika hilirnya kita sentuh, hulunya juga harus kita sentuh. Saat ini Pak Bupati ingin menyentuh wilayah hulu, karena sumber kehidupan kita berasal dari hulu," ujarnya.
Menurut dia, kawasan hulu berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat di Kabupaten Bogor maupun wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.
Untuk menjaga kualitas lingkungan kawasan tersebut, Pemkab Bogor melakukan berbagai kegiatan konservasi, mulai dari penebaran eco enzyme guna membantu meningkatkan kualitas air, penanaman pohon, pelepasliaran satwa, hingga penebaran ikan yang disesuaikan dengan kondisi habitat setempat.
Ajat menjelaskan jenis ikan yang ditebar dipilih berdasarkan kesesuaian dengan ekosistem perairan di kawasan hulu agar dapat mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan penanaman pohon pule air sebagai upaya memperkuat fungsi konservasi tanah dan menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan hulu.
"Kita ingin masyarakat bisa melihat secara langsung bahwa menjaga lingkungan itu membutuhkan proses. Karena itu, kita lakukan langkah-langkah yang manfaatnya bisa dirasakan dan dipahami masyarakat," katanya.
Penanaman Bambu
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat mengapresiasi berbagai inisiatif pelestarian lingkungan yang berkembang di Kabupaten Bogor, termasuk gerakan penanaman bambu yang melibatkan komunitas dan masyarakat.
Menurut Jumhur, upaya menjaga lingkungan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.
"Gerakan lingkungan bukan gerakan milik pemerintah saja, tapi justru yang utama adalah milik masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan pemerintah saat ini tengah mendorong gerakan "tobat ekologis nasional" yang mengajak masyarakat berperan aktif dalam memulihkan lingkungan melalui berbagai kegiatan, termasuk penanaman bambu dan rehabilitasi lahan kritis.
Menurut Jumhur, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus mengurangi risiko kerusakan ekosistem yang dapat berdampak luas bagi kawasan Jabodetabek.
- Pelestarian Lingkungan
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Polisi Bekuk Penikam OB Perusahaan Otomotif di Cikarang
-
Ada Penerbangan Langsung Tanjungpandan ke Singapura
-
Jalan sehat rukun sama teman
-
BRI Life Dorong Keberlanjutan Lewat Program Kesehatan dan Pelestarian Lingkungan
-
Asesmen OJK Saat Pasar Gelisah di Tengah Demo, Efektifkah Jaga Kepercayaan Investor?
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.