Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Presiden: Penegakan Hukum di Indonesia Jangan Tumpul ke atas dan Tajam ke Bawah

📅 Selasa, 21 Okt 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Kasus ekspor CPO mencerminkan betapa kuatnya oligarki bisnis yang mampu mengendalikan kebijakan ekspor, kuota, hingga harga pangan domestik. Tanpa koreksi atas sistem yang memungkinkan praktik seperti itu, tindakan hukum akan terus menjadi reaktif, bukan preventif.

“Pemerintah perlu memastikan bahwa pelaku korporasi tidak hanya mengganti kerugian, tetapi juga menerima sanksi korporatif yang menimbulkan efek jera, misalnya pencabutan izin usaha, audit lingkungan, dan pengawasan rantai pasok sawit secara menyeluruh,”tegas Badiul.

Sementara itu, pengamat hukum dan pembangunan, Hardjuno Wiwoho mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto dan Kejaksaan Agung (Kejagung) yang berhasil mengembalikan uang negara sebesar Rp13,2 triliun dari kasus tindak pidana korupsi fasilitas ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya.

Keberhasilan itu jelasnya sebagai salah satu hasil dari kerja sistemik lembaga hukum yang mendapat dukungan penuh dari kepemimpinan nasional.

“Ini momentum penting, statement Presiden jelas, arahnya jelas, dan harus kita dukung. Presiden harus membuktikan terus, setiap hari, bahwa apa yang dia katakan akan menjadi kenyataan bagi rakyat Indonesia yakni negara tanpa korupsi,” katanya.

Pernyataan Presiden yang menyebut kasus korupsi CPO sebagai tindakan “kejam, serakah, atau bahkan subversi ekonomi” mencerminkan kesadaran yang dalam akan bahaya korupsi terhadap kedaulatan bangsa.

Hardjuno juga menilai langkah itu sebagai sinyal Pemerintah menempatkan penegakan hukum sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. “Ketegasan seperti ini mengirim pesan jelas kepada dunia usaha bahwa keuntungan tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kepentingan rakyat. Negara hadir untuk melindungi publik,” kata Hardjuno.

Selain mengapresiasi Kejagung, Hardjuno juga menekankan pentingnya menjaga kesinambungan dari langkah ini. “Jangan berhenti di satu kasus besar. Semangatnya harus diteruskan ke sektor-sektor lain yang rawan penyimpangan. Momentum seperti ini langka, jadi harus dijaga konsistensinya, terutama melawan mafia-mafia hukum yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan bernegara,” pungkas Hardjuno.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.