Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Apindo Sindir Pemerintah: Sektor Riil Belum Optimal, Ekonomi Hanya Tumbuh di Atas Kertas

5 Senin, 20 Okt 2025, 21:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Apindo Sindir Pemerintah: Sektor Riil Belum Optimal, Ekonomi Hanya Tumbuh di Atas Kertas Apindo Sindir Pemerintah: Sektor Riil Belum Optimal, Ekonomi Hanya Tumbuh di Atas Kertas Doc: ANTARA/ Maulana Surya
Ket. Ilustrasi - Pekerja menyelesaikan pesanan produk tekstil untuk ekspor di pabrik Sari Warna Solo, Jawa Tengah.

JAKARTA – Sektor riil memegang peran vital sebagai motor utama perekonomian nasional. Di tengah fluktuasi pasar keuangan dan dinamika global yang sering kali tidak menentu, sektor riil menjadi fondasi yang menjaga stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Aktivitas produksi, perdagangan, pertanian, manufaktur, hingga jasa produktif inilah yang menciptakan lapangan kerja, menambah nilai tambah, dan menggerakkan rantai pasok nasional.

Tanpa penguatan sektor riil, pertumbuhan ekonomi hanya akan bersandar pada angka—bukan pada kesejahteraan yang nyata.

Karena itu, kebijakan fiskal dan moneter idealnya diarahkan untuk mendorong ekspansi sektor-sektor produktif, terutama yang melibatkan pelaku usaha kecil dan menengah.

Ketika sektor riil tumbuh, efeknya langsung terasa di masyarakat: konsumsi meningkat, daya beli terjaga, dan pajak yang masuk pun lebih berkelanjutan.

Namun, tantangan sektor ini juga tidak ringan. Biaya logistik tinggi, keterbatasan infrastruktur, hingga akses pembiayaan yang belum merata masih menjadi penghambat.

Karenanya, penguatan sektor riil bukan hanya soal dorongan modal, tetapi juga soal menciptakan ekosistem yang efisien, adil, dan berdaya saing.

Ketua Umum Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anne Patricia Sutanto menilai, sektor riil masih belum bekerja secara optimal sebagai motor perekonomian nasional.

Beberapa tantangan struktural, termasuk rendahnya serapan tenaga kerja formal, tingginya biaya usaha, dan kompleksitas birokrasi, masih menjadi penghambat daya saing sektor ini.

Dalam Forum Diskusi Capaian Satu Tahun Kinerja Kabinet Merah Putih di Bidang Perekonomian di Jakarta, Senin (20/10), dia menyoroti rendahnya serapan tenaga kerja formal di sektor pertanian.

Meskipun sektor ini telah menyerap 40 juta pekerja, hanya sekitar 12 persen dari pekerja pertanian yang masuk kategori formal, jauh lebih rendah dibanding sektor manufaktur, akomodasi, layanan, dan makanan.

"Mungkin ini juga salah satu sebabnya (pemerintah) tetap harus menurunkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) sampai sekian juta penerima. Itu karena pekerja formal baru terserap 12 persen," ujarnya.

Anne menyebut fenomena itu mencerminkan pergeseran ekonomi dari komoditas padat karya ke sektor padat modal, meskipun pemerintah sebelumnya menekankan pentingnya mendorong komoditas padat karya sebagai motor ekonomi.

Selain persoalan tenaga kerja, tingginya biaya usaha menjadi sorotan.

Suku bunga pinjaman di Indonesia berada di kisaran 8-14 persen, jauh di atas rata-rata lima negara besar ASEAN yang berkisar 4-6 persen.

Biaya logistik juga mencapai 23 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dibanding Malaysia (13 persen), Tiongkok (16 persen), maupun Singapura (8 persen). Tagihan listrik pun relatif mahal, sebesar 0,099 dolar AS per kWh, di atas Bangladesh (0,087 dolar AS), China (0,087 dolar AS), dan Vietnam (0,075 dolar AS).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Rona
Pemelihara Hewan Makin Dima...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Hadir Juga di Pengadilan, Joko Widodo Menjelaskan Perjalanan Pendidikannya, Keamanan Superketat

Hadir Juga di Pengadilan, Joko Widodo Menjelaskan Perjalanan Pendidikannya, Keamanan Superketat

05 Nov 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.