NBA Kembali Menyapa Tiongkok: Antara Bisnis, Politik, dan Garis Tipis Diplomasi

Senin, 13 Okt 2025, 08:51 WIB

MACAU, TIONGKOK - Setelah enam tahun absen, National Basketball Association (NBA) resmi kembali ke Tiongkok lewat laga pra-musim bertabur bintang di Macau. Namun, di balik sorak-sorai penonton dan kilatan kamera, kembalinya liga basket paling populer di dunia ini juga menjadi ujian diplomasi dan bisnis bernilai miliaran dolar di tengah hubungan rapuh antara Washington dan Beijing.

Ribuan penggemar memadati Venetian Arena pada Jumat malam saat Phoenix Suns, dipimpin bintang empat kali NBA All-Star Devin Booker, menaklukkan Brooklyn Nets. Di barisan depan, hadir nama-nama besar seperti David Beckham, aktor Jackie Chan, hingga pendiri Alibaba Jack Ma, menambah kilau malam yang menandai kembalinya NBA ke tanah Tiongkok untuk pertama kali sejak 2019.

Ket. Foto: Ilustrasi pertandingan NBA di Macau, Tiongkok. — Sumber: AFP

Kehadiran NBA kali ini menjadi simbol rekonsiliasi setelah hubungan keduanya membeku akibat cuitan seorang pejabat Houston Rockets yang menyuarakan dukungan bagi demonstrasi pro-demokrasi di Hong Kong. Namun, beberapa jam setelah laga berakhir, Presiden AS Donald Trump justru mengumumkan tarif tambahan 100 persen terhadap produk Tiongkok, menegaskan betapa mudahnya harmoni ini terguncang oleh gejolak politik global.

Meski demikian, NBA tampak tak gentar. Liga dan para bintangnya berbondong-bondong kembali ke pasar pasca-pandemi yang menjanjikan keuntungan besar. LeBron James dan Stephen Curry menjadi contoh terbaru pemain yang mengunjungi Tiongkok tahun ini untuk memperluas jangkauan merek pribadi mereka.

“Banyak atlet belajar dari pengalaman James Harden yang datang ke Tiongkok tahun lalu, menjual produk anggurnya, dan ludes hanya dalam 60 detik,” kata Michael Lin, Wakil Presiden agensi digital olahraga Mailman, bagian dari IMG Group.

Di sekitar arena, pameran mitra dagang NBA tampak semarak, mulai dari raksasa e-commerce Alibaba, aplikasi video Kuaishou, hingga produsen susu Mengniu. Semuanya menargetkan konsumen muda, segmen yang menjadi tulang punggung popularitas liga ini di Tiongkok.

David Leiner, Presiden divisi kartu koleksi Fanatics Collectibles, mengungkapkan perusahaannya kini menjual kartu NBA edisi khusus Tiongkok di lebih dari 30 kota, dengan harga mulai dari 10 yuan (sekitar 22.000 rupiah). “Kami ingin produk ini menjangkau khalayak seluas mungkin,” ujarnya kepada AFP.

Menurut Mark Fischer, mantan Direktur Pelaksana NBA Tiongkok, perhatian besar terhadap pasar Tiongkok dimulai sejak awal 2000-an berkat efek global bintang Houston Rockets, Yao Ming. Saat entitas bisnis NBA Tiongkok berdiri pada 2008, nilainya sudah mencapai 2,3 miliar dolar AS, dan melonjak menjadi lebih dari 4 miliar dolar satu dekade kemudian.

Pada tahun 2019, NBA bahkan meneken kesepakatan dengan Tencent senilai sekitar 1,5 miliar dolar AS untuk hak siar eksklusif. Namun, kontrak menggiurkan itu sempat terguncang akibat krisis diplomatik yang dipicu satu unggahan di media sosial.

Kini, kembalinya NBA lewat Macau menjadi langkah hati-hati dalam memperbaiki hubungan. “Beijing sudah membuka pintu samping, tapi belum menggelar karpet merah,” kata Fischer, yang kini menjadi konsultan olahraga internasional.

Macau, wilayah administratif khusus yang dikenal dengan industri kasino, dipilih sebagai lokasi “netral”, cukup dekat untuk pasar Tiongkok, namun tanpa tekanan langsung dari daratan utama.

Tim-tim NBA pun memanfaatkan momen ini untuk mengembalikan pendapatan yang sempat hilang. Phoenix Suns, misalnya, bekerja sama dengan tim pemasaran di balik tur sukses influencer Amerika IShowSpeed di Tiongkok.

“Kami bahkan membuat konten pemain Suns yang mencicipi kue bulan dan memastikan penggunaan istilah yang tepat antara Lunar New Year dan Chinese New Year,” ujar Andrew Spalter, CEO agensi digital East Goes Global.

Brooklyn Nets, yang dimiliki oleh Ketua Alibaba Joseph Tsai, telah lama memiliki tim media sosial internal berbahasa Mandarin untuk menjangkau penggemar lokal.

Namun, di balik strategi dagang dan promosi budaya itu, muncul peringatan serius dari para pengamat geopolitik. Victor Cha, analis dari Center for Strategic and International Studies, menilai Tiongkok masih memegang “kekuatan tertinggi” terhadap NBA, yakni kemampuannya menggunakan pasar besar untuk memaksa perusahaan beradaptasi atau bahkan menyensor diri sendiri.

Seorang pemasar olahraga di Tiongkok yang enggan disebutkan namanya menyebut pengalaman tahun 2019 menjadi pelajaran pahit.

“Cuitan Daryl Morey butuh waktu kurang dari lima menit untuk memicu kemarahan publik. Dengan begitu banyak pihak yang terkait NBA, mustahil kejadian seperti itu tak terulang,” katanya. “Kita tahu betapa cepatnya situasi bisa berputar arah. Ini bukan soal satu pemain NBA saja, tapi siapa pun yang membawa nama liga.”

Dalam salah satu acara di Macau, Presiden dan COO Las Vegas Sands, Patrick Dumont, bahkan sempat mencoba teknologi AI milik Alibaba yang diklaim mampu menerjemahkan komentar pertandingan NBA secara real-time antara bahasa Inggris dan Mandarin.

Saat Dumont bertanya apakah ia boleh berbicara bebas tanpa mengikuti teks di layar, pemandunya tersenyum dan menjawab diplomatis: “Secara teknis, Anda boleh mengatakan apa saja, tapi yang di layar ini... paling aman.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.