Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Geger! BPOM Temukan Cemaran Radioaktif di Udang dan Cengkeh, Begini Langkah Tegas Pemerintah

📅 Senin, 06 Okt 2025, 19:18 WIB | Oleh:
Geger! BPOM Temukan Cemaran Radioaktif di Udang dan Cengkeh, Begini Langkah Tegas Pemerintah Doc: ANTARA/Mecca Yumna
Ket. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar di Jakarta, Senin (6/10).

JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengambil tiga langkah strategis untuk menangani kasus cemaran radioaktif Cesium-137 pada komoditas udang dan cengkeh. Langkah ini dilakukan untuk meyakinkan otoritas Amerika Serikat dan menjaga reputasi Indonesia di mata dunia.

Kepala BPOM Taruna Ikrar di Jakarta, Senin, mengatakan ketiga langkah tersebut dijalankan secara profesional adalah untuk meyakinkan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (US FDA) bahwa Indonesia serius menangani kasus cemaran tersebut, agar citra dan reputasi Indonesia di mata dunia membaik.

"Bukan yakinkan berdasarkan diskusi. Bukan meyakinkan dengan apologies. Bukan meyakinkan dengan bantah-bantahan. Tapi kita yakinkan dengan data. Itulah yang dilakukan oleh Satgas. Dan termasuk Badan POM," kata Taruna.

Dia menjelaskan, upaya-upaya yang dilakukan seperti berkoordinasi dengan Satuan Tugas (Satgas) Cesium-137 untuk dekontaminasi, mengisolasi sejumlah daerah guna memastikan proses berjalan lancar. Selain itu, pihaknya juga melakukan asesmen bersama (joint assessment) dengan US FDA.

"Kemudian yang ketiga, ternyata kita juga dapat bukti bahwa ada sebagian cesium ini yang terkontaminasi dari bahan baku pembuatan besi yang diimpor dari Filipina. Dan itu kita lakukan re-impor. Re-impor bahan-bahan ini," katanya.

Dia menuturkan, US FDA memiliki standar kadar Cesium-137 pada makanan, yakni 1.200 Bq/kg. Namun, Indonesia memiliki penetapan yang jauh lebih rendah, yakni 500 Bq/kg.

"Nah, yang didapatkan itu dari 400 lebih kontainer itu cuma ada 4. Nah, dari 4 kontainer itu juga, sangat rendah cuma 68," katanya.

Meski demikian, katanya, hal ini perlu menjadi perhatian, karena berhubungan dengan kelangsungan perdagangan Indonesia. Tidak hanya dengan Amerika Serikat, namun juga negara lain.

"Buktinya Saudi Arabia sudah melarang udang-udang segar yang mau dikirim ke sana," katanya.

Belajar dari pengalaman terdahulu, katanya, pada 2011, produk-produk laut Jepang terindikasi terkontaminasi radioaktif karena ada gempa yang merusak fasilitas nuklir Fukushima sehingga mencemari laut.

Taruna menyebutkan, butuh waktu 10 tahun untuk menyelesaikan masalah tersebut.

"Kan bahaya sekali kalau 10 tahun. Nah, tapi kita sudah dapat caranya. Yaitu yang pertama, kita harus yakinkan," dia menambahkan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Kemnaker Ajak Dunia Usaha P...
Luar Negeri
AS Berlakukan Sanksi Baru p...

Kenaikan biaya harga pakan ayam

2 jam lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Kenaikan biaya harga pakan ...

Pameran Indofest 2026

2 jam lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Pameran Indofest 2026

Pendaftaran SMPB di Jateng

2 jam lalu | Wahyu AP

Nasional
Pendaftaran SMPB di Jateng
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Jaringan Mahasiswa Indonesia Bersatu Nilai Nanik S Deyang Belum Layak Jabat Kepala BGN

Jaringan Mahasiswa Indonesia Bersatu Nilai Nanik S Deyang Belum Layak Jabat Kepala BGN

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 8
Pelatihan untuk Tekan Pengangguran
📅 Jumat, 05-Jun-2026
# 8
Pelatihan untuk Tekan Pengangguran
📅 Jumat, 05-Jun-2026
Pelatihan untuk Tekan Pengangguran
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.