Lestari Moerdijat Sebut Butuh Keseimbangan antara Ilmu dan Iman untuk Wujudkan Generasi Muda Indonesia Berdaya Saing

Selasa, 30 Sep 2025, 20:15 WIB

MOJOKERTO - Keseimbangan antara ilmu dan iman dibutuhkan untuk mewujudkan generasi muda yang berkarakter kuat dan berdaya saing. Di tangan generasi muda, pembangunan Indonesia harus terus berlanjut.

“Ilmu dan iman adalah senjata penting untuk menguasai dunia. Orang berilmu tanpa iman hanya akan menghadirkan kehampaan,” kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat memberi sambutan pada acara Temu Muda Inspiratif Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (30/9).

Ket. Foto: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat — Sumber: istimewa

Menurut Lestari, di tangan generasi muda,pembangunan Indonesia akan dilanjutkan.

Perkembangan teknologi, tegas dia, harus bisa dimanfaatkan oleh setiap generasi muda dengan penuh tanggung jawab.

Rerie, sapaan akrab Lestari mengungkapkan, sejarah Indonesia mencatat sebagai bangsa yang besar dan kaya.

Bahkan, ungkap Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI, sejak zaman Kerajaan Majapahit, Patih Gajah Mada telah mengucapkan Sumpah Palapa.

Patih Gajah Mada bertekad tidak akan beristirahat atau menikmati kesenangan (amukti palapa) sebelum mempersatukan seluruh Nusantara. “Lokasi Kerajaan Majapahit itu berada di Mojokerto, Jawa Timur,” ujar Rerie.

Di masa Kerajaan Majapahit, ungkap Rerie, penyair sastra Jawa Kuno Mpu Tantular pada Kitab Sutasoma yang ditulisnya menggagas ungkapan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti Berbeda-beda tetapi tetap satu.

Perbedaan, tegas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, adalah sebuah keniscayaan yang tidak perlu dipertentangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Pengetahuan Kebencanaan

Dalam kesempatan berbeda, Rerie juga mengatakan peningkatan pengetahuan kebencanaan masyarakat harus diwujudkan untuk mengambil langkah tepat dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang berpotensi menyebabkan bencana di Indonesia.

“Kemampuan masyarakat dalam melakukan mitigasi bencana melalui berbagai upaya peningkatan pengetahuan kebencanaan harus konsisten dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan potensi bencana alam di tanah air,” kata Lestari di Jakarta, Senin.

Hal itu disampaikannya dalam sambutan pada acara Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat Tahun 2025 dengan tema "Diseminasi Hasil Riset dan Inovasi serta Akuisisi Pengetahuan Bidang Kebencanaan" yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Semarang, Jawa Tengah, Senin.

Lestari, yang juga anggota Komisi X DPR RI, berpendapat dalam upaya meningkatkan kemampuan mitigasi bencana, sejumlah kearifan lokal juga bisa disosialisasikan sebagai bagian dari solusi terkait pengelolaan sumber daya alam yang baik.

Rerie, sapaan akrab Lestari mengungkapkan bahwa berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 2.310 kejadian bencana alam di Indonesia sepanjang 1 Januari hingga 1 September 2025.

Menurutnya, kondisi topografi yang meliputi daerah pegunungan dan dataran tinggi yang membujur sejajar dengan panjang pulau Jawa, serta dataran rendah yang hampir tersebar di seluruh wilayah pantai Utara dan Selatan, menyebabkan Provinsi Jawa Tengah memiliki posisi yang rawan bencana alam.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.