• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Pakar Neurologi Ingatkan B...

Pakar Neurologi Ingatkan Bahaya AI Berlebihan Bisa Melemahkan Daya Pikir Manusia

Jumat, 26 Jun 2026, 06:30 WIB

Jakarta - Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dinilai mampu mempermudah berbagai aktivitas manusia melalui otomatisasi dan akses informasi yang cepat. Namun, penggunaan AI secara berlebihan juga berpotensi mengurangi kemampuan berpikir mandiri, daya ingat, hingga kreativitas seseorang.

Konsultan Senior Neurologi di Dharamshila Narayana Hospital, Delhi, Dr. MS Panduranga, menilai salah satu dampak yang dapat muncul akibat ketergantungan terhadap AI adalah berkurangnya upaya mental yang selama ini berperan penting dalam menjaga fungsi kognitif otak.

Ket. Foto: Foto ilustrasi - Kecerdasan Buatan (AI) dan pembelajaran mesin kian menyita perhatian dunia. — Sumber: Antara

“Ketika AI banyak digunakan untuk mengingat, bernalar, atau memecahkan masalah, otak dengan cepat belajar bahwa ia tidak perlu lagi melakukan pekerjaan itu sendiri, dan seiring waktu, ini dapat secara diam-diam mengubah bagaimana informasi diproses dan disimpan," kata Panduranga, dikutip dari Hindustan Times, Kamis (25/6).

Menurut dia, perubahan fungsi otak akibat ketergantungan pada teknologi sebenarnya bukan fenomena baru. Sebelumnya, manusia juga telah mengandalkan berbagai alat bantu seperti kalkulator, GPS, peta digital, dan mesin pencari untuk mempermudah aktivitas sehari-hari. Namun, AI memiliki kemampuan yang jauh lebih luas karena tidak hanya membantu mencari informasi, tetapi juga mampu menulis, bernalar, hingga menghasilkan berbagai karya sesuai kebutuhan pengguna.

Kemampuan tersebut membuat AI mengambil alih lebih banyak tugas kognitif yang selama ini menjadi bagian dari proses berpikir manusia. Akibatnya, seseorang berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan mengingat, menganalisis, dan menyelesaikan masalah secara mandiri.

Panduranga menjelaskan, ketika seseorang langsung mengandalkan AI tanpa terlebih dahulu mencoba mengingat atau mencari solusi sendiri, otak kehilangan proses latihan yang penting untuk memperkuat memori dan mempertajam kemampuan berpikir.

“Kemampuan mendapatkan jawaban secara instan setiap saat juga bisa membuat perhatian lebih mudah terpecah, karena pikiran terbiasa mengharapkan respons cepat daripada mempertahankan fokus dalam waktu lama,” ujarnya.

Selain berdampak pada konsentrasi, ketergantungan berlebihan terhadap AI juga dinilai dapat mengurangi kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah. Meski demikian, Panduranga menegaskan bahwa melarang penggunaan AI bukanlah solusi yang tepat.

Menurut dia, yang perlu dilakukan adalah mengubah cara memanfaatkan teknologi tersebut. AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung untuk memperkaya proses belajar dan berpikir, bukan sebagai pengganti seluruh proses kognitif manusia.

“Cobalah menjawab pertanyaan apa pun secara mandiri terlebih dahulu, lalu gunakan AI untuk menguji, memperbaiki, atau menyempurnakan alasan dan pemikiran Anda,” katanya.

Norwegia Larang Siswa

Kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap proses belajar juga mulai mendorong sejumlah negara mengambil langkah pembatasan. Salah satunya adalah Norwegia yang berencana melarang penggunaan teknologi AI generatif bagi siswa sekolah dasar mulai tahun ajaran baru pada akhir Agustus 2026.

Menurut laporan Engadget, kebijakan tersebut berlaku bagi siswa kelas satu hingga kelas tujuh atau anak berusia 6 hingga 13 tahun. Pemerintah Norwegia menilai penggunaan AI generatif berpotensi membuat siswa melewati tahapan penting dalam proses pembelajaran dasar.

Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Støre, mengatakan sekolah harus lebih memprioritaskan penguatan kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung dibandingkan mendorong ketergantungan pada teknologi AI.

Pembatasan juga akan diterapkan bagi siswa berusia 14 hingga 16 tahun. Kelompok usia tersebut hanya diperbolehkan menggunakan AI generatif di bawah pengawasan guru. Sementara itu, remaja berusia 17 tahun ke atas masih dapat menggunakan AI secara mandiri dengan tetap mengedepankan prinsip penggunaan yang bertanggung jawab.

Kebijakan tersebut melanjutkan langkah Norwegia dalam membatasi penggunaan teknologi digital di lingkungan pendidikan. Pada 2024, negara itu telah melarang penggunaan telepon pintar di sekolah.

Pemerintah Norwegia mengklaim kebijakan larangan ponsel memberikan sejumlah dampak positif, mulai dari menurunnya kasus perundungan, meningkatnya prestasi akademik, hingga berkurangnya kunjungan siswa ke layanan psikologis akibat masalah kesehatan mental. Dampak tersebut disebut paling terasa pada kelompok siswa perempuan.

Selain membatasi penggunaan AI di sekolah, pemerintah Norwegia juga tengah menyiapkan regulasi yang melarang anak-anak berusia di bawah 16 tahun menggunakan media sosial. Rancangan aturan tersebut dijadwalkan diajukan ke parlemen sebelum akhir tahun dan mengadopsi pendekatan serupa yang telah diterapkan oleh Australia.

  • Penggunaan AI

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.