• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Karya Budaya yang Sarat Ni...

Karya Budaya yang Sarat Nilai Filosofi Tinggi, Pemkot Semarang Perkenalkan Tari Dug Dug Der

Sabtu, 08 Agu 2026, 00:22 WIB

SEMARANG - Pemerintah Kota Semarang memperkenalkan tari dug dug der sebagai identitas budaya lokal baru yang merepresentasikan karakter masyarakat Kota Semarang.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, di Semarang, Jumat, tarian tersebut dihadirkan sebagai karya budaya sarat nilai filosofis tentang kebersamaan, toleransi, dan gotong royong.

Ket. Foto: Para pemain Tari Dug Dug Der yang diperkenalkan Pemerintah Kota Semarang. — Sumber: Antara foto/HO-Pemkot Semarang

Ia menjelaskan bahwa tari dug dug der diciptakan dari akar sejarah Kota Semarang yang sejak dahulu tumbuh dari perjumpaan berbagai budaya, etnis, agama, dan tradisi.

Menurut dia, ruh tarian tersebut bersumber dari tradisi tahunan dugderan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

"Kota Semarang berdiri di atas keberagaman. Perbedaan bukan sesuatu yang memisahkan, melainkan kekuatan yang menyatukan kita," katanya.

"Filosofi itulah yang hidup dalam tari dug dug der. Gerakan-gerakannya merupakan simbol masyarakat yang melangkah bersama, saling menghormati, dan bergotong royong membangun kota," lanjutnya.

Ia menjelaskan, gerakan tari dug dug der dirancang agar mudah dipelajari dan ditampilkan oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak sekolah, komunitas seni, hingga warga umum.

"Tari dug dug der hadir sebagai media untuk mengenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda, agar mereka semakin bangga terhadap identitas daerahnya," katanya.

Lebih dari sekadar pelestarian seni, ia menegaskan bahwa pembangunan Kota Semarang tidak hanya diukur dari kemajuan fisik atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari modal sosial dan persaudaraan warganya.

Ia menjelaskan, tari dug dug der menjadi salah satu instrumen perekat sosial untuk menegaskan Kota Semarang sebagai kota yang aman, inklusif, dan kondusif.

"Budaya adalah perekat kehidupan sosial. Saat warga dari berbagai latar belakang dapat menari bersama tanpa sekat, di situlah kita memperlihatkan wajah asli Kota Semarang," katanya.

Sebagai upaya untuk mengenalkan tarian tersebut, Pemkot Semarang akan menggelar Festival Tari Dug Dug Der Semarang Tahun 2026 pada Minggu (9/8) pukul 06.00 WIB di Lapangan Pancasila Simpang Lima, melibatkan sekitar 25 ribu penari.

Pemilihan Simpang Lima sebagai lokasi acara memiliki makna strategis sebagai ruang publik paling inklusif di pusat kota yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Mari kita ramaikan Festival Tari Dug Dug Der besok Minggu, di Lapangan Pancasila Simpang Lima. Mari bergerak bersama, merayakan keberagaman, mencintai budaya sendiri," katanya.

  • budaya
  • Pemkot Semarang
  • Daya Tarik Wisata

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.