KAI Bikin Gebrakan! Tak Perlu Cetak Tiket Lagi, Terapkan Face Recognition Boarding
Rabu, 24 Sep 2025, 17:20 WIBJAKARTA -Â PT Kereta Api Indonesia (KAI) melangkah maju dengan komitmen pada prinsip (Environmental, Social, and Governance/ESG) dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan atau RJPP 2025â2029. Mulai dari biodiesel B40, PLTS, hingga face recognition boarding, berbagai inovasi hadir untuk mewujudkan transportasi kereta api yang lebih hijau, efisien, dan ramah pelanggan.
"Komitmen ESG kami wujudkan dengan menempatkannya sebagai salah satu tujuan strategis dalam RJPP 2025â2029," ujar Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Menurut Bobby, program-program keberlanjutan yang dijalankan antara lain penggunaan biodiesel B40, instalasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), serta penanaman lebih dari 106 ribu pohon di sepanjang lintasan rel dan lingkungan sekitar dari 2021 hingga Agustus 2025 .
Digitalisasi menjadi pilar penting dalam transformasi KAI. Penerapan tiket elektronik (e-boarding pass) dan face recognition boarding gate mendukung efisiensi penggunaan kertas, selain itu juga mempercepat proses layanan sehingga pengalaman pelanggan semakin praktis.
Sejalan dengan itu, ia mengatakan KAI memperkuat pengelolaan sampah dan limbah dengan sistem yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Skor ESG KAI tahun 2024 dari S&P Global berada di angka 41, dengan kategori data availability high. Hasil itu menjadi motivasi untuk terus memperbaiki langkah keberlanjutan yang dijalankan, lanjutnya.Â
"Kami melihat digitalisasi dan otomasi sebagai inovasi paling mendesak. Teknologi ini mendukung peningkatan keselamatan sekaligus mempercepat pelayanan. Beberapa langkah sudah berjalan, seperti Access by KAI, face recognition boarding gate, Nilam Virtual Assistant, hingga female seat map," kata Bobby.
KAI juga menjalankan strategi dekarbonisasi secara bertahap. Pertama, melalui optimalisasi desain operasi dan elektrifikasi jalur, yang saat ini sudah mencapai 8,9 persen.
Kedua, lewat efisiensi energi, misalnya penggunaan bangunan ramah lingkungan di kantor LRT Jabodebek. Ketiga, dengan mengganti energi konvensional ke energi terbarukan, seperti implementasi PLTS dan penggunaan biodiesel B40.
Keempat, melalui kompensasi, yakni penanaman pohon di sepanjang lintasan.
Dengan strategi itu, ia mengatakan KAI berharap transportasi kereta api semakin ramah lingkungan sekaligus memberi dampak positif bagi kualitas hidup masyarakat.
"Kami juga mulai mengukur carbon footprint melalui tiket, serta menyediakan water station di stasiun. Semua inovasi ini dirancang agar setiap pelanggan merasakan pengalaman perjalanan yang lebih mudah, nyaman, dan sesuai dengan standar global," kata Bobby.
Ia juga menyampaikan bahwa masukan (feedback) dari pelanggan selalu KAI jadikan dasar transformasi. Misalnya, keluhan soal antrean panjang di "boarding gate" menjadi pemicu lahirnya "face recognition boarding".
Masukan agar layanan lebih ramah keluarga melahirkan ruang laktasi dan tempat bermain anak di stasiun, ujar Bobby.Â
Kemudian saran tentang keamanan perempuan di transportasi umum mendorong hadirnya "female seat map" dan kereta khusus perempuan di KRL. Setiap inovasi, menurut dia, lahir dari dialog nyata dengan masyarakat melalui media sosial maupun langsung di stasiun.
- pt kai
- tiket kereta
- face recognition boarding
- esg
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
-
Naik Transportasi Publik Jakarta Gratis Saat Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ketentuannya
-
HUT KAI ke-80, Penumpang Medan Dapat Kejutan Seru di Kereta
-
KONI DKI Data Calon Tim Pelatda untuk Mendapatkan Atlet Berkualitas
-
Humas KAI: Masyarakat Kini Sudah Bisa Pesan Tiket Kereta Liburan Nataru
-
Saudi Bangun Pusat Studi Bahasa Arab Senilai 46 Juta Riyal di Banda Aceh
-
Efisiensi Digital KAI: 1,7 Juta Penumpang Gunakan Face Recognition di 22 Stasiun
-
Lengkapi Keamanan Anda Berkendara, 70mai Hadirkan Dashcam Terbaru A410 di Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.