Ketahanan Pangan Diuji, Antisipasi El Nino Tak Boleh Setengah Hati
Rabu, 15 Jul 2026, 00:00 WIBMenghadapi ancaman El Nino, ketahanan pangan nasional hanya dapat terjaga melalui penguatan fungsi Bulog sebagai penyangga pangan serta penguatan produksi pangan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
JAKARTA â Ketahanan pangan di tengah ancaman musim panas ekstrem, El Nino, tak cukup hanya mengandalkan stok, melainkan juga memerlukan inovasi di sektor pertanian, seperti penggunaan varietas tahan kekeringan, penguatan irigasi, dan penerapan teknologi budidaya adaptif. Kombinasi kebijakan penyangga pangan dan inovasi produksi akan menentukan kemampuan Indonesia menghadapi risiko iklim tanpa mengorbankan stabilitas pangan.
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai penguatan cadangan pangan dan efisiensi penggunaan air menjadi kunci menjaga ketahanan pangan nasional menghadapi ancaman El Nino. Dia mengusulkan tiga langkah mitigasi, yaitu optimalisasi pengelolaan air, penguatan sektor pertanian melalui varietas tahan kekeringan dan irigasi hemat air, serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi krisis air bersih dan kebakaran hutan.
Esther juga menegaskan Perum Bulog harus berfungsi sebagai buffer stock utama untuk menjaga ketersediaan beras dan pangan, sekaligus mendukung stabilisasi harga, penanganan darurat, dan ketahanan pangan nasional. âBulog harus menjadi buffer atau penyangga suplai beras dan pangan lainnya. Setiap negara ada badan penyangga pangan,â ujarnya kepada Koran Jakarta, Selasa (14/7).
Dalam jangka panjang, dia mendorong penguatan produksi pangan domestik melalui peningkatan infrastruktur, teknologi, dan sarana pertanian, serta penerapan diversifikasi pangan sesuai potensi dan karakteristik masing-masing daerah guna mengurangi ketergantungan pada impor.
Soal cadangan pangan daerah, Esther menyebut daerah justru lebih mudah dibanding kota karena harga lebih murah, terutama di daerah pertanian. Kuncinya ada pada diversifikasi pangan sesuai karakteristik wilayah. âKalau di daerah lebih mudah daripada kota, harganya pun lebih murah apalagi daerah pertanian, asalkan ada diversifikasi pangan disesuaikan dengan daerah masing-masing. Misalnya Jawa itu beras, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Madura mengkonsumsi nasi jagung, Ambon Papua makan sagu,â jelasnya.
Seperti diketahui, Perum Bulog terus memperkuat ketahanan pangan nasional dengan menyerap 3,4 juta ton setara beras dari produksi dalam negeri hingga 14 Juli 2026, atau sekitar 85 persen dari target nasional sebesar 4 juta ton. Capaian ini menjadi langkah strategis dalam mendukung program swasembada pangan yang berkelanjutan.
Optimalkan Serapan
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan keberhasilan penyerapan 3,4 juta ton setara beras merupakan hasil sinergi Bulog dengan pemerintah, TNI, Polri, pemerintah daerah, petani, kelompok tani, dan pelaku usaha penggilingan dalam mengoptimalkan penyerapan hasil panen. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan komitmen negara dalam memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus memperkuat cadangan pangan nasional.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.