Pasien Ebola Asal AS Diterbangkan ke Jerman, Trump Blokir Penerbangan Komersial dari Kongo

Rabu, 15 Jul 2026, 00:01 WIB

BERLIN – Seorang warga negara Amerika Serikat yang terinfeksi Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) telah tiba di Jerman untuk menjalani perawatan intensif. Evakuasi ini berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap wabah Ebola yang telah menewaskan lebih dari 700 orang.

Pasien yang diketahui berusia sekitar 60-an tahun itu tiba di Frankfurt pada Senin (13/7) malam dan langsung dipindahkan ke rumah sakit universitas di kota tersebut. Kementerian Kesehatan Jerman memastikan proses evakuasi dilakukan dengan prosedur pengamanan ketat.

Ket. Foto: Pemerintah AS disebut meminta bantuan Jerman karena negara tersebut memiliki keahlian dalam menangani pasien Ebola. Selain itu, waktu penerbangan dari DRC menuju Jerman lebih singkat dibandingkan perjalanan langsung ke Amerika Serikat. — Sumber: Istimewa

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan pasien tersebut merupakan seorang pekerja kemanusiaan yang bertugas di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri di timur laut DRC.

Wilayah Ituri saat ini menjadi pusat wabah Ebola yang diumumkan pemerintah DRC pada pertengahan Mei. Ini merupakan wabah Ebola ke-17 yang pernah tercatat di negara tersebut.

Menurut Tedros, WHO sebelumnya telah memberikan perawatan klinis dan melakukan pemantauan ketat terhadap pasien sebelum akhirnya ia dievakuasi ke Jerman untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

Kelompok bantuan Kristen Samaritan's Purse mengonfirmasi bahwa pasien tersebut merupakan karyawan tetap organisasi yang bekerja sebagai manajer gudang di DRC.

Wabah Ebola yang tengah berlangsung di DRC disebabkan oleh strain virus Bundibugyo. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk strain tersebut. WHO mencatat lebih dari 1.900 kasus terkonfirmasi dengan lebih dari 700 kematian.

Meski demikian, Kementerian Kesehatan Jerman menegaskan bahwa keberadaan pasien tersebut tidak menimbulkan bahaya bagi masyarakat umum maupun pasien lain di rumah sakit Frankfurt. Risiko masuknya orang yang terinfeksi Ebola ke Jerman juga dinilai sangat rendah.

Pi keahlian dalam menangani pasien Ebola. Selain itu, waktu penerbangan dari DRC menuju Jerman lebih singkat dibandingkan perjalanan langsung ke Amerika Serikat.

Ini bukan pertama kalinya pasien Ebola asal AS dievakuasi ke Jerman dalam wabah terbaru. Pada akhir Mei, seorang warga Amerika lainnya yang terinfeksi virus tersebut menjalani karantina bersama keluarganya di Rumah Sakit Charité Berlin. Pasien itu kemudian dinyatakan pulih setelah menjalani perawatan selama dua minggu.

Di tengah perkembangan tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump mengambil langkah lebih ketat. Pemerintah AS memblokir warga negara Amerika yang berada di DRC, atau yang baru saja meninggalkan negara tersebut, untuk terbang langsung ke Amerika Serikat menggunakan penerbangan komersial.

Kebijakan itu dilaporkan menggunakan kewenangan transportasi berdasarkan Title 49. Warga AS yang terdampak dapat dimasukkan ke dalam daftar larangan terbang hingga mereka menjalani masa tunggu setidaknya 21 hari di negara ketiga.

Sekitar dua lusin warga Amerika yang sebelumnya melakukan perjalanan ke DRC dilaporkan dijadwalkan terbang menuju AS pada Selasa. Departemen Luar Negeri AS disebut akan memberikan dukungan kepada warga yang terdampak selama menjalani masa tunggu tersebut.

Ebola merupakan penyakit virus yang dapat berakibat fatal dan menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang atau hewan yang terinfeksi. Gejalanya dapat mencakup demam tinggi, muntah, hingga pendarahan.

Dengan wabah yang masih berlangsung di DRC, otoritas kesehatan internasional kini terus meningkatkan pemantauan untuk mencegah penyebaran virus ke negara lain.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.