Tiga Pembalap Alami Gegar Otak, Protokol Medis Tour de France Kembali Dipertanyakan

Rabu, 15 Jul 2026, 00:02 WIB

AURILAC, PRANCIS – Serangkaian kecelakaan yang mewarnai pekan pertama Tour de France kembali memunculkan persoalan serius mengenai penanganan gegar otak (concussion) di balap sepeda. Meski prosedur pemeriksaan telah diperbarui dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus terbaru menunjukkan bahwa mendeteksi cedera kepala di tengah lomba tetap menjadi tantangan besar dalam olahraga yang setiap detiknya sangat berharga.

Dari delapan pembalap yang mengundurkan diri sejak Tour de France dimulai di Barcelona pada 4 Juli, tiga di antaranya dipastikan mengalami gegar otak. Mereka adalah pembalap Prancis Clément Berthet (Groupama-FDJ United), pebalap Belanda Alex Molenaar (Caja Rural-Seguros RGA), dan wakil Norwegia Torstein Træen (Uno-X Mobility), yang sempat mengenakan jersey kuning sebagai pemimpin klasemen.

Ket. Foto: Mobil medis Tour de France melakukan pemeriksaan terhadap pembalap. — Sumber: Istimewa

Ketiganya mengalami pola yang sama. Mereka terjatuh, tetap menyelesaikan etape, lalu baru dinyatakan mengalami gegar otak setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut pada malam harinya sehingga akhirnya harus mengundurkan diri dari perlombaan.

Berthet mengalami kecelakaan keras saat etape pembuka nomor team time trial. Molenaar terjatuh sekitar lima kilometer menjelang finis etape kelima, sedangkan Træen mengalami insiden pada etape berikutnya ketika melintasi turunan Col du Tourmalet saat masih mengenakan jersey kuning.

Direktur Medis Union Cycliste Internationale (UCI), Xavier Bigard, mengakui situasi tersebut belum ideal.

"Bagi kami tentu tidak memuaskan melihat pembalap baru didiagnosis mengalami gegar otak setelah mereka kembali melanjutkan balapan," ujar Bigard.

UCI mulai menerapkan protokol khusus gegar otak sejak awal musim 2021. Kebijakan tersebut lahir setelah sejumlah insiden, termasuk kasus pembalap Prancis Romain Bardet yang pada Tour de France 2020 tetap mengayuh hampir 90 kilometer meski mengalami gegar otak akibat kecelakaan dengan kecepatan lebih dari 60 km/jam.

Menurut Bigard, perkembangan dalam beberapa tahun terakhir cukup signifikan. "Kami telah membuat kemajuan yang sangat besar," katanya.

Dalam prosedur yang berlaku saat ini, pembalap yang terjatuh pertama kali diperiksa oleh orang pertama yang mendatanginya, yang sering kali merupakan mekanik tim.

Jika ditemukan sedikitnya dua tanda gegar otak, seperti mual, nyeri kepala atau leher, kelemahan anggota tubuh, kehilangan orientasi, atau gangguan keseimbangan—pembalap wajib dikeluarkan dari perlombaan.

Apabila gejala tersebut belum terlihat jelas, pembalap diperbolehkan melanjutkan lomba sambil menjalani evaluasi lanjutan oleh dokter dari mobil medis atau kendaraan tim.

Pemeriksaan tersebut meliputi serangkaian pertanyaan sederhana mengenai kondisi dan jalannya balapan. Bila hasilnya mengarah pada dugaan gegar otak, pembalap tetap dapat dihentikan dari kompetisi.

Selanjutnya, jika masih terdapat kecurigaan cedera kepala, dilakukan pemeriksaan medis menyeluruh selama sekitar 10 menit setelah etape berakhir.

Direktur Medis Groupama-FDJ United, Mathieu Le Strat, menilai pemeriksaan di pinggir jalan memiliki keterbatasan yang tidak bisa dihindari.

"Protokol di pinggir jalan jauh lebih singkat. Pemeriksaan dilakukan dalam situasi yang sangat sibuk sehingga jauh lebih sulit memberikan penilaian yang akurat."

Menurutnya, pembalap yang baru saja terjatuh hampir selalu ingin segera kembali mengendarai sepedanya agar tidak kehilangan waktu.

"Pemeriksaan gegar otak yang benar membutuhkan waktu 10 hingga 15 menit dengan berbagai tes. Hal seperti itu tidak mungkin dilakukan di sisi jalan ketika balapan sedang berlangsung."

Pendapat serupa disampaikan Kepala Dokter Tour de France, Florence Pommerie, yang telah menangani perlombaan sejak 2010.

Ia menegaskan bahwa gegar otak merupakan cedera yang sulit dikenali hanya melalui pengamatan singkat. "Cedera ini tidak bisa dilihat secara langsung. Tidak ada satu tanda yang benar-benar menentukan, melainkan kombinasi berbagai gejala."

Pommerie juga mengungkapkan bahwa ia tidak melihat ketiga pembalap tersebut kembali menjalani pemeriksaan di mobil medis setelah insiden masing-masing.

Bigard menjelaskan bahwa gejala gegar otak memang dapat berkembang secara bertahap.

"Sebagian gejala muncul seketika lalu menghilang beberapa jam kemudian, sementara gejala lain justru baru muncul setelah beberapa waktu."

Karena itulah, hasil pemeriksaan singkat di tengah balapan dapat berbeda dengan diagnosis medis yang dilakukan setelah etape selesai.

Meski demikian, seluruh pihak yang terlibat sepakat bahwa dunia balap sepeda kini jauh lebih serius menangani persoalan gegar otak dibanding beberapa tahun lalu.

Wakil Presiden serikat pembalap internasional CPA, Pascal Chanteur, mengatakan kesadaran mengenai risiko cedera kepala terus meningkat.

"Kini semua pihak benar-benar menyadari pentingnya masalah ini."

Namun, tantangan terbesar tetap berasal dari karakter balap sepeda itu sendiri. Dalam perlombaan yang berlangsung selama tiga pekan, kehilangan beberapa detik saja dapat menentukan posisi di klasemen umum, sehingga hampir semua pembalap berusaha secepat mungkin kembali ke atas sepeda setelah terjatuh.

Bigard mengakui kondisi tersebut belum ideal. "Kami masih berada dalam situasi yang jauh dari sempurna, dan kami terus berupaya membuatnya menjadi sesedikit mungkin ketidaksempurnaannya."

Ia menambahkan bahwa edukasi kepada seluruh pelaku balap sepeda profesional masih menjadi pekerjaan jangka panjang. "Ini adalah proses yang membutuhkan waktu, tetapi merupakan langkah yang sangat penting."

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.