Potensi Energi Surya di Indonesia Belum Didukung dengan Birokrasi yang Mumpuni
Rabu, 15 Jul 2026, 01:00 WIBJAKARTA - Besarnya potensi energi surya di Indonesia belum didukung dengan birokrasi yang mumpuni. Padahal dari sisi modal tidak ada kendala, masalahnya di regulasi.Â
Fenomena ini membuat RI berpotensi kehilangan daya saing pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di skala global.
Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma, mengakui potensi besar dan tingginya minat pasar terhadap energi surya di Indonesia.
âSebetulnya kami melihat bahwa pernyataan Putra Adhiguna secara tepat tentang potensi raksasa (3.294 GW) dan tingginya minat pasar terhadap energi surya di Indonesia. Namun, pernyataan ini juga menelanjangi ironi terbesar dalam transisi energi nasional,â kata Surya di Jakarta, Senin (13/7).
Menurut Surya, masalah utama saat ini bukan pada ketersediaan modal atau sumber daya, melainkan pada birokrasi dan regulasi.
Penekanan pada kepastian jadwal pengadaan oleh PLN adalah sentilan keras. Selama ini, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sering kali mengalami penundaan atau revisi. âTanpa linimasa yang transparan dan mengikat dari PLN selaku pembeli tunggal (offtaker), minat besar investor hanya akan menjadi angka di atas kertas,â ujarnya.
Surya juga menyebut akan kontradiktif jika mendesak investasi bergerak âlebih cepatâ tanpa menyelesaikan masalah kelebihan pasokan listrik berbasis batubara di jaringan PLN saat ini. âPLN kerap menahan laju PLTS karena terikat kontrak Take-or-Pay dengan PLTU independen,â jelasnya.
Lebih lanjut, Surya menilai poin mengenai kebutuhan industri terhadap energi bersih sangat valid. Ia memperingatkan jika penyediaan PLTS terus melambat, Indonesia berisiko kehilangan daya saing global.
âKarena investor internasional kini menuntut rantai pasok yang hijau (bebas karbon),â kata Surya.
Ia menegaskan, potensi 3.294 GW tidak akan berarti apa-apa jika âkeranâ pengadaannya masih tersumbat oleh monopoli pasar yang enggan bergerak fleksibel.
âBola transisi energi saat ini bukan di tangan investor, melainkan di tangan pemerintah dan PLN untuk menciptakan kepastian regulasi,â pungkasnya.
Potensi energi surya Indonesia yang mencapai 3.294 gigawatt (GW) disebut mampu menjadi motor pertumbuhan investasi energi bersih dan mendukung target transisi energi nasional.
Pacu Investasi
Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, mengatakan fokus saat ini adalah mempercepat investasi untuk menyediakan energi bersih yang banyak dicari industri strategis dan investor guna menciptakan lapangan kerja.
âSaat ini fokusnya adalah investasi lebih cepat untuk menyediakan energi bersih yang juga dicari oleh banyak industri strategis dan investor untuk menciptakan lapangan kerja,â kata Putra
Ia menilai minat investor terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebenarnya cukup tinggi. Namun, menurutnya yang dibutuhkan saat ini adalah kepastian jadwal pengadaan proyek oleh PT PLN (Persero) agar investasi dapat segera direalisasikan.
- Transisi Energi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Din Syamsuddin Harap Perbedaan Politik Tak Pecah Belah Umat
-
Indonesia dan Jerman Jajaki Aliansi Baru Industri Kreatif
-
PLN EPI: Jangan Tergantung pada Fosil Lagi, Bioenergi Jawabannya, Kolaborasi jadi Kunci
-
Tekan Impor BBM, PTPN I Uji Coba Tanam Sorgum 20 Hektare Dukung Bioetanol
-
Jalin Keakraban Antara Instasi dan Media dalam Fortami Cup XI 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.