RI Berpotensi Kehilangan Daya Saing EBT
Selasa, 14 Jul 2026, 23:59 WIBJAKARTA â Besarnya potensi energi surya di Indonesia belum didukung dengan birokrasi yang mumpuni. Padahal dari sisi modal tidak ada kendala, masalahnya di regulasi. Fenomena ini membuat RI berpotensi kehilangan daya saing pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di skala global.
Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma mengakui potensi besar dan tingginya minat pasar terhadap energi surya di Indonesia.
"Sebetulnya kami melihat bahwa pernyataan Putra Adhiguna secara tepat tentang potensi raksasa (3.294 GW) dan tingginya minat pasar terhadap energi surya di Indonesia. Namun, pernyataan ini juga menelanjangi ironi terbesar dalam transisi energi nasional,â kata Surya di Jakarta, Senin (13/7).
Menurut Surya, masalah utama saat ini bukan pada ketersediaan modal atau sumber daya, melainkan pada birokrasi dan regulasi.
Penekanan pada "kepastian jadwal pengadaan oleh PLN" adalah sentilan keras. Selama ini, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sering kali mengalami penundaan atau revisi. Tanpa linimasa yang transparan dan mengikat dari PLN selaku pembeli tunggal (offtaker), minat besar investor hanya akan menjadi angka di atas kertas,â ujarnya.
Surya juga menyebut akan kontradiktif jika mendesak investasi bergerak "lebih cepat" tanpa menyelesaikan masalah kelebihan pasokan listrik berbasis batubara di jaringan PLN saat ini. âPLN kerap menahan laju PLTS karena terikat kontrak Take-or-Pay dengan PLTU independen,â jelasnya.
Kehilangan Daya Saing
Lebih lanjut, Surya menilai poin mengenai kebutuhan industri terhadap energi bersih sangat valid. Ia memperingatkan jika penyediaan PLTS terus melambat, Indonesia berisiko kehilangan daya saing global.
âKarena investor internasional kini menuntut rantai pasok yang hijau (bebas karbon),â kata Surya.
Ia menegaskan, potensi 3.294 GW tidak akan berarti apa-apa jika "keran" pengadaannya masih tersumbat oleh monopoli pasar yang enggan bergerak fleksibel.
âBola transisi energi saat ini bukan di tangan investor, melainkan di tangan pemerintah dan PLN untuk menciptakan kepastian regulasi,â pungkasnya.
Potensi energi surya Indonesia yang mencapai 3.294 gigawatt (GW) disebut mampu menjadi motor pertumbuhan investasi energi bersih dan mendukung target transisi energi nasional.
Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, mengatakan fokus saat ini adalah mempercepat investasi untuk menyediakan energi bersih yang banyak dicari industri strategis dan investor guna menciptakan lapangan kerja.
âSaat ini fokusnya adalah investasi lebih cepat untuk menyediakan energi bersih yang juga dicari oleh banyak industri strategis dan investor untuk menciptakan lapangan kerja,â kata Putra
Ia menilai minat investor terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebenarnya cukup tinggi. Namun, menurutnya yang dibutuhkan saat ini adalah kepastian jadwal pengadaan proyek oleh PT PLN (Persero) agar investasi dapat segera direalisasikan.(ers)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Ancol Padat Membeludak Dikunjung Puluhan Ribu Orang di Libur Idul Adha
-
Wakil Uskup TNI-Polri Audiensi Perdana ke Kedubes Vatikan Jakarta
-
Pebulu Tangkis Harus Menjawab Tekanan di Singapore Open
-
Butuh Investasi Besar, Pemerintah Harus Gandeng Investor Swasta Bangun PLTS 100 GW
-
Bikin Jantungan di Catalunya, Rider Muda Indonesia Kiandra Ramadhipa Nyaris Pecahkan Rekor Podium Moto3 Junior 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.