Mengenal Minuman Penghangat Khas Jakarta Bir Pletok
📅 Senin, 22 Sep 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa
U
ntuk warga Jakarta mungkin pernah mendengar bir pletok. Tapi apakah pernah mencoba atau mencicipi. Rasanya sangat khas penuh rempah. Ada baiknya mencobanya, apalagi dalam suasana dingin karena Jakarta terus diguyur hujan.
Seorang pembuat bir pletok, Titin Nurhajati, asal Sukapura, Cilicing, Jakarta Utara, menceritakan kisahnya saat ditemui di sela Jakarta International Investment, Trade, Tourism, Small and Medium Enterprise Expo 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC) sejak 17 September lalu.
Wanita paruh baya itu menyiapkan bir pletok hangat dalam gelas plastik ukuran kecil dan menawarkannya ke pengunjung, khususnya kalangan muda, secara gratis. Hasilnya lumayan, sebagian pengunjung tertarik mencicipi dan membeli bir pletok buatan Titin.
Bir pletok dibuat dari berbagai macam rempah, seperti jahe, cengkeh, pala, cabai jawa, serai, kapulaga, kayu manis, daun pandan, daun jeruk, kayu secang. Semua itu menampilkan warna merah minuman. Selain itu, juga ditambahkan rempah lain seperti bunga lawang atau pokak. Ada juga kembang pala. Ini seperti resep asli Betawi untuk menambah rasa sedap.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk menambah rasa manis, gula merah yang biasa disebut gula jawa, gula kelapa, gula aren atau madu juga dimasukkan. Semua bahan rempah tersebut kemudian direbus dan setelah dingin siap diminum. Dari pandangan medis, peneliti, sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Dr (Cand) dr Inggrid Tania, MSi mengakui bir pletok memang dapat menghangatkan tubuh.
Bahkan mencegah dan membantu mengatasi “masuk angin” atau dalam istilah medisnya selesma (common cold) akibat infeksi virus yang sifatnya ringan. Manfaat lainnya, kata Inggrid Tania, membantu melancarkan pencernaan, menyeimbangkan gula darah, menyeimbangkan kolesterol darah, menyeimbangkan asam urat, menyeimbangkan tekanan darah dan meningkatkan vitalitas tubuh. Ini karena ada bahan di dalam bir pletok yang memiliki sifat antioksidan.
Titin sebenarnya bukan orang Betawi. Dia berasal dari Kuningan, Jawa Barat, yang menikah dengan pria asli Betawi. Dia mengenal bir pletok melalui acara-acara keluarga suami, seperti arisan keluarga dan Idul Fitri. Satu kata yang terucap usai mencicipi minuman rempah itu, “enak.” Dia lalu belajar meracik bir pletok dari mertuanya. Hasilnya memuaskan. Titin lalu terpikir menjadikan minuman itu sebagai ladang mengumpulkan rupiah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Usaha bir pletok Titin sudah berlangsung selama beberapa tahun belakangan. Skalanya pun masih rumah tangga. Dalam memproduksi bir pletok, dia dibantu enam karyawan yang sebagian tetangga dan anggota keluarganya. Produk bir pletok Titin sudah sampai ke luar Jawa, seperti Bali dan Kalimantan, meskipun hanya terbatas pada kenalannya. Strategi penjualan daring pun dia jalankan. Dalam sehari, 25-50 botol bir pletok bisa dia jual.
Ditanya tentang pendapatan, Titin tersenyum. Katanya, cukup untuk membiayai hidup serta menggaji para karyawan. Melihat potensi produk bir pletok di pasar global, Titin pun ditawari untuk ekspor produk. Dalam hati dia mengamini tawaran itu, namun mengaku terbentur kendala skala produksi.
Titin mengaku belum bisa memproduksi bir pletok dalam jumlah banyak karena masih mengerjakannya secara manual, khususnya dalam pengupasan bahan, seperti jahe dan penggilingan. Untuk produksi skala rumahan saja, cukup banyak tenaga karyawan yang terkuras dalam sehari. Sedangkan untuk ikut serta dalam pameran butuh waktu lebih dari sehari untuk urusan mengupas jahe saja.
“Supaya bisa berkembang ingin punya mesin penggiling,” katanya. Namun, harganya mahal, sekitar 500 juta sampai 700 juta. Jadi selama ini diblender. Awalnya diblender berapa kali. Blender sudah berkali-kali rusak. Selain mesin, Titin juga belum paham menyiapkan produk untuk ekspor. Salah satunya terkendala bahasa asing. Menurut informasi yang dia dengar, produsen harus menyiapkan produk dengan kemasan bertuliskan Bahasa Inggris.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!