Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

IEU-CEPA: Harapan Lompatan Ekspor atau Beban Standar Eropa yang Menjerat?

📅 Rabu, 17 Sep 2025, 18:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
IEU-CEPA: Harapan Lompatan Ekspor atau Beban Standar Eropa yang Menjerat? Doc: Antara.
Ket. Pemerintah optimistis IEU-CEPA berpotensi meningkatkan nilai ekspor produk Indonesia ke Uni Eropa sebesar 2,5 kali lipat.

JAKARTA – Kemitraan ekonomi dengan Uni Eropa (UE) memiliki nilai strategis karena membuka akses Indonesia ke salah satu pasar terbesar dunia, sekaligus mendorong peningkatan standar produksi, keberlanjutan, dan tata kelola perdagangan.

Namun, dinamika hubungan ini tidak lepas dari tantangan, terutama terkait regulasi ketat Uni Eropa seperti isu deforestasi, standar lingkungan, dan keberlanjutan energi. Di satu sisi, kemitraan dapat memperkuat daya saing ekspor Indonesia dan menarik investasi hijau; di sisi lain, jika tidak diantisipasi, kebijakan protektif Eropa bisa menekan produk unggulan nasional seperti CPO dan komoditas pertanian.

Oleh karena itu, kerja sama ini bukan hanya soal akses pasar, melainkan juga transformasi struktur ekonomi menuju standar global.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan skema Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) berpotensi meningkatkan nilai ekspor produk Indonesia ke Uni Eropa (European Union/EU) sebesar 2,5 kali lipat.

"Kami berharap trade (perdagangan) Indonesia dengan EU akan meningkat 2,5 kali. Kalau sekarang sekitar 30 miliar dolar AS, mungkin kita berharap ini bisa naik menjadi 60 miliar dolar AS di dalam 5 tahun," katanya di Jakarta, Rabu.

Ia menuturkan tanpa perjanjian dagang, total ekspor Indonesia ke Eropa saat ini masih kalah dibandingkan Vietnam.

Nilai ekspor Vietnam ke Eropa hampir dua kali lebih tinggi daripada Indonesia.

Airlangga mengatakan Indonesia dan Uni Eropa berencana untuk menandatangani perjanjian lengkap (full agreement) IEU-CEPA pada 23 September mendatang.

"Dengan ditandatanganinya di tanggal 23 (September) nanti, maka IEU-CEPA itu artinya 80 persen produk Indonesia ke Eropa tarifnya nol," ujarnya.

Ia menyatakan penandatanganan IEU-CEPA tersebut memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global, terutama usai Indonesia memenangi gugatan di World Trade Organization (WTO) terhadap aturan bea imbalan terhadap produk biodiesel berbasis kelapa sawit.

"Kemenangan ini menunjukkan bahwa diplomasi perdagangan kita (Indonesia) sedang kuat-kuatnya," ucap Airlangga.

Sebelumnya, meski akan segera ditandatangani, perjanjian IEU-CEPA tidak akan langsung berlaku. Kesepakatan ini terlebih dahulu harus melalui proses persetujuan di parlemen 27 negara anggota Uni Eropa.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono menjelaskan untuk di Indonesia, proses ratifikasi relatif lebih cepat yakni sekitar 1-2 bulan.

Namun, di Uni Eropa bisa memakan waktu 10-12 bulan karena harus melewati tahapan administratif dan legislasi nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.